Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Agung Vernot, Pelatih Tinju Amatir sekaligus Motivator Olahraga

19 Maret 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TOTALITAS: Agung Vernot menyalurkan hobinya melalui dunia tinju.

TOTALITAS: Agung Vernot menyalurkan hobinya melalui dunia tinju.

Hobi tinju sejak kecil, Agung Vernot bercita-cita menjadi juara dunia. Tapi kini dia lebih senang melatih dan memberi motivasi atlet. Bagaimana sepak terjangnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

SEORANG anak 15 tahun girang saat mendengar bunyi bel sekolah tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Dia langsung menyambar tas sekolah dan memberikan pada tetangga yang juga sekelas dengannya. Jaket dikenakan dan langsung lari dari SMP di kawasan Kestalan Banjarsari ke kawasan Komplang Banjarsari. Jarak yang relatif jauh untuk anak kelas satu SMP.

“Itu memang cara saya untuk menjaga fisik,” ujar Agung Vernot mengisahkan masa kecilnya. 

Tidak memiliki latar belakang keluarga petinju, Vernot kecil sudah kecanduan olah raga fisik tersebut. Kesempatan pertama datang saat seorang pelatih tinju di Solo menawarinya bergabung di KONI Solo. Tanpa pikir panjang anak kecil yang masih kelas 6 SD itu mengiyakan. 

Keputusan di usia belia itu ternyata juga mendapat dukungan dari orang tua. Namun ayahnya selalu berpesan agar dia bersungguh-sungguh untuk berlatih, disiplin dan sportif. Kata-kata sang ayah menjadi tambahan motivasi. Sampai-sampai dia mengurangi waktu bermain bersama teman-temannya. Pernah suatu hari saat hendak latihan, Vernot dibujuk temannya untuk berkumpul dan merokok. Sebuah kenakalan yang jamak dialkukan anak-anak di lingkungannya. Dia menolak. Temannya tetap memaksa. Hingga akhirnya Vernot  memberi bogem mentah kepada temannya.

“Lha setengah jam menjelang latihan kok dipaksa merokok, saat itu saya berfikir nafas saya tidak akan kuat saat tinju kalau masih merokok. Ya itu karena kesal saya ajak berantem,” ujar pelatih Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Solo tersebut.

Mental yang kuat itu membuatnya siap menghadapi siapapun saat di atas ring. Bahkan, dia selalu mendapat lawan dengan usia di atasnya. Sebut saja debut yang dilakukan saat kelas 2 SMP. Di usia 16 tahun, dia mendapat lawan dengan usia di atas 20 tahun.

“Itu saya ingat saat Kejurda Jateng di GOR Gelar Sena Klaten. Saya dapat perunggu. Lawannya lebih senior, lebih tinggi juga. Tapi nggak ada masalah. Prinsipnya begini, kita sama-sama berlatih kok. Sama-sama sudah siap tanding. Tinggal liat hasilnya saja,” ujar pria yang juga melatih Cosite BC Kopassus itu.

Dengan rentetan sejarah penuh perjuangan, pria kelahiran 1974 ini lantas memetik banyak pelajaran dari masa kecilnya. Peraih emas dalam Kejurda Tinju Amatir tingkat Provinsi Jawa Tengah itu kini mampu mengontrol emosi sekaligus memberi motivasi. Hobi berantem sebelum ikut tinju, Vernot menjadi orang yang sabar setelah banyak berprestasi. Tinju baginya menjadi sarana mengasah syaraf psikomotorik, kontrol emosi sekaligus belajar membuat perhitungan dalam kondisi sulit. Vernot berharap regenerasi olahraga tinju dapat berkesinambungan.

“Sekarang pelajar SMP SMA itu pulang sekolah sudah sore, kemudian capek. Jadi perlu ada motivasi yang lebih untuk berlatih tinju,” ujarnya.

Pelatih yang pernah membawa tim junior Jateng menjadi juara umum Kejurnas ini ingin menularkan semangat bertanding untuk atlet-atlet junior. Tak hanya di cabang olahraga tinju, dia juga ingin memberi motivasi di seluruh cabang.

“Sekarang saya kembangkan bagaimana memberi motivasi atlet, semua cabang olah raga, dengan metode hypnoterapi. Itu ternyata lebih manjur untuk meningkatkan mental bertanding,” ujar penyuka buah-buahan ini.

Selama ini motivasi untuk atlet biasanya diberikan di satu ruangan besar dengan peserta seluruh cabang olahraga. Hal itu dinilai baik namun tidak efektif. Baginya, hypnoterapi yang diberikan untuk setiap cabang olahraga menjadi efektif memompa semangat.

“Ada sebuah cabang yang meminta saya memberi motivasi, kemudian saya beri motivasi. Malam harinya saya ditelepon bahwa cabang olahraga tersebut menang karena terangkat mentalnya,” kata Vernot. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia