Sabtu, 19 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Butuh Kaderisasi Program Penanggulan HIV/AIDS

19 Maret 2019, 21: 26: 10 WIB | editor : Perdana

Butuh Kaderisasi Program Penanggulan HIV/AIDS

KLATEN – Kabupaten Klaten butuh personel dalam melaksanakan pelaksana program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten. Untuk itu dibutuhkan kaderisasi. Mengingat jumlah personel KPA di Klaten hanya lima orang saja.

”Mempersiapkan masyarakat dalam penanggulangan Aids sejak dini itu diperlukan. Apalagi sosialisasi yang pernah kita lakukan pada tahun lalu sifatnya baru semi pengkaderisasi. Saya melihat masyarakat belum siap untuk bisa terlibat dalam penanggulangannya,” jelas Pelaksana Program KPA Kabupaten Klaten, Fauzi Rifai kepada Jawa Pos Radar Solo.

Lebih lanjut, Fauzi menjelaskan kaderisasi diperlukan agar isu HIV/AIDS tidak menajadi hal tabu. Dirinya meninginkan hal tersebut menjadi pembicaraan sehari-hari sehingga bukan hal eksklusif. Harapannya penyebaran virus mematikan itu dapat dipahami dan dimengerti. Sehingga pencegahan sejak dini dapat dilakukan.

Kaderisasi diperlukan guna mendorong orang tua yang bertanggungjawab pada moral anak-anaknya. Terutama menyangkut pergaulannya sehingga tidak terjebak pada seks bebas tetapi bisa diantisipasi terlebih dahulu. Ketika menjadi kaderisasi pun orangtua bisa memberikan pemahaman dan pembelajaran terkait bahayanya HIV/AIDS.

Fauzi mengakui, jika saat ini sudah terbentuk warga peduli aids (WPA) yang tersebar di 10 kecamatan. Meliputi Kecamatan Ceper, Pedan, Klaten Tengah, Klaten Selatan, Jogonalan, Prambanan, Wonosari, Kebonarum, Wedi dan Trucuk. Termasuk adanya 43 desa di Klaten yang juga sudah membentuk WPA.

”Wilayah Klaten cukup luas dengan keberadaan 401 desanya. Maka itu kaderisasi sangat diperlukan agar bisa menjangkau secara keseluruhan. Setidaknya nanti ada kaderisasi di setiap kecamatan minimal ada 20 orang dari berbagai lapisan masyarakat,” bebernya.

Pelaksana Progra KPA Klaten lainnya, Amin Bagus menambahkan, tahun lalu ada 10.768 orang yang baru mengikuti tes HIV. Hasilnya terdapat 85 orang postif. ”Nantinya setelah adanya pembekalan dan pelatihan sebagai bagian dari kaderisasi, bisa saja menggulirkan berbagai program. Menyasar populasi yang rentan terkena HIV/AIDS tersebut,” ucapnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia