Selasa, 15 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Longsor, Listrik Ratusan Rumah Mati Total 

19 Maret 2019, 21: 37: 13 WIB | editor : Perdana

MASIH RAWAN: Talut jalan Solo-Magelang di Kecamatan Selo, Boyolali longsor setelah diguyur hujan Minggu malam lalu.

MASIH RAWAN: Talut jalan Solo-Magelang di Kecamatan Selo, Boyolali longsor setelah diguyur hujan Minggu malam lalu. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI - Bencana tanah longsor menerjang kawasan lereng Merapi-Merabu pada Minggu malam (17/3). Selain menutup jalan utama Boyolali-Magelang, longsor menyebabkan aliran listrik ke ratusan rumah warga padam setelah empat tiang listrik roboh.

Di jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) longsor terjadi di beberapa titik. Dampaknya, jalur penghubung dua kabupaten tersebut tidak bisa dilalui beberapa jam. Pengendara yang tak sabar menunggu proses evakuasi jalan terpaksa harus putar balik.

“Jalan ini tertutup sejak tadi malam (Minggu malam). Dan baru bisa dilalui pagi ini (Senin pagi),” kata Darni, 45, warga setempat yang ikut kerja bakti menyingkirkan material longsor.

Dia bersama lima orang rekannya menyingkirkan material tanah dan batang pohon yang menutup jalan. Dengan menggunakan alat manual cangkul, mereka menyingkirkan gundukan tanah tersebut ke pinggir jalan.

Bencana longsor juga meluluhlantahkan talut jalan penghubung empat dusun di Desa Lencoh, Kecamatan Selo. Talut sepanjang 30 meter dengan ketinggian 7 meter itu longsor ke dasar sungai sedalam 50 meter. Kondisi ini diperparah dengan tumbangnya empat tiang listrik. Akibatnya ratusan rumah di empat dusun di Desa Lencoh mengalami listrik padam. 

“Tiga tiang listrik ikut longsor ke jurang sungai. Dan satu tiang listrik roboh,” kata Sutono, 44, warga Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo.

Otomatis jaringan instalasi listrik ke empat dusun ini terputus. Sedikitnya 250 rumah di Dusun Grintingan, Wates, Kajor Atas dan Kajor Bawah gelap gulita saat malam hari. “Perbaikan listrik bisa lama. Mengingat ada empat tiang listrik roboh dan untuk membentangkan kabel ini butuh waktu lama. Apalagi cuaca juga terus hujan,” katanya.

Suwondo, 44, warga Dukuh Kajor, Desa Lencoh, Kecamatan Selo berharap aliran listrik diharapkan dapat segera tersambung kembali. Mengingat banyak anak-anak sekolah yang butuh penerangan untuk belajar pada malam hari.

“Untuk sementara ini, mobil pikap untuk mengangkut hasil pertanian dan lain sebagainya ditinggal di jalan Dusun Tritis, Desa Lencoh,” ujarnya.

Bencana ini mendapat perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali. Tim langsung terjun ke lokasi untuk mendata dampak bencana. “Ada tiga rumah warga yang rusak berat akibat tertimpa longsoran dari tebing,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Boyolali Kurniawan Fajar Prasetyo.

Beruntung, seluruh anggota keluarga di rumah yang tertimpa longsor itu selama semuanya. Meski begitu, pihaknya tetap meminta seluruh warga untuk tetap waspada.

Terutama warga mereka yang tinggal di sekitar tebing, untuk meningkatkan kewaspadaan saat hujan turun. 

“Bila hujan turun lebih dari satu jam, lebih baik warga mengungsi ke rumah tetangga yang aman,” imbuhnya. 

Tidak hanya longsor, belasan rumah di sepanjang aliran Sungai Wiroko di wilayah Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri terendam banjir. Banjir di Desa Kulorejo dan Bulurejo, ini terjadi mulai Minggu malam. Rata-rata ketinggian air rata-rata sekitar 40 cm hingga 80 cm. 

“Terjadi akibat hujan dengan intensitas ringan sampai sedang dengan durasi lebih dari 3 jam di wilayah Kecamatan Tirtomoyo,” kata Kalakhar BPBD Wonogiri Bambang Haryanto, Senin (18/3).

Kondisi tersebut mengakibatkan  kenaikan elevasi air di Sungai Wiroko sehingga EWS banjir menunjukkan level kuning dan berbunyi. Banjir mengakibatkan beberapa unit bangunan di Desa Kulorejo dan Desa Bulurejo, Kecamatan Nguntoronadi tergenang banjir.  Namun, kejadian itu hanya berlangsung beberapa jam. Senin pagi air sudah surut.

Terpisah, Kepala Sub bid Divisi III/ I Perum Jasa Tirta (PJT) I Wilayah Sungai Bengawan Solo Didit Priambodo mengatakan bahwa Senin (18/3) mulai pukul 10.30 pintu spillway Waduk Gajah Mungkur mulai dibuka untuk mengendalikan muka air Waduk di level control water level (CWL). 

“Elevasi waduk dalam sehari kemarin naik 60 centimeter. Sehingga perlu disediakan ruang di waduk dengan cara menambah outflow waduk melalui spillway (membuka pintu air). Saat ini dilepaskan 100 meter kubik per detik,” katanya. 

Menurut Didit, WGM tidak banyak berkontribusi terhadap banjir di wilayah hilir Bengawan Solo. Untuk kondisi debit Bengawan Solo di hilir Wonogiri banyak dipengaruhi oleh debit dari anak-anak sungai lainnya.

“Sebagai contoh di pos stasiun AWLR Jurug, pada saat siaga merah debit di sana bisa mencapai  1000 meter kubik per detik. Dengan adanya outflow Wonogiri sebesar 100 meter kubik per detik ini berarti kontribusi debit dari Wonogiri hanya 10 persen terhadap debit di Jurug,” terangnya. (wid/kwl/bun)

(rs/wid/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia