Kamis, 24 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Arseto Susah Dilupakan

19 Maret 2019, 21: 42: 29 WIB | editor : Perdana

LEGENDA: Charles Putiray sata hadir di acara reunian Arseto melawan ITS Surabaya di Lapangan Kota Barat (15/3)

LEGENDA: Charles Putiray sata hadir di acara reunian Arseto melawan ITS Surabaya di Lapangan Kota Barat (15/3) (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Sosok Charles Putiray memang tak terlalu setenar sang kakak, Rochy Putiray. Wajahnya tak terlalu familiar, prestasinya sebagai pemain juga tak terlalu mentereng. Berbanding jauh ketimbang sang kakak, yang sempat menjadi andalan lini serang Timnas di era 1990aa-2000an awal. Bahkan Rochy sempat bermain untuk banyak klub di Liga Hongkong. Walau begitu Charles sempat memberi warna bagi persepakbolaan di Indonesia, termasuk di klub legendaries asal Solo, Arseto.

"Saya di Arseto dari musim 1993 sampai pas bubaran (1998). Saya sendiri promosi ke Arseto dari jalur Diklat Arseto, satu angkatan dengan adiknya Agung Setyobudi,  si Iplik (sapaan Tri Guntoro). Kakak saya memang tenar di masanya," ucap Charles kepada Jawa Pos Radar Solo,  usai mengikuti sebuah pertandingan persahabatan dalam rangka reunian Arseto di Lapangan Kota Barat, Sabtu (15/3).

Pemain berposisi wingger tersebut mengakui untuk mendatkan posisi inti di Arseto memang tak mudah.  Dirinya mengakui tiga musim di Arseto lebih banyak permain, namun memulai langkah dari bangku cadangan terlebih dulu.

”Arseto itu pemainnya banyak yang penggawa Timnas, jadi persaingan menjadi tim inti itu sulit. Pemain muda seperti saya tentu butuh perjuangan besar untuk bisa main.  Jangankan main,  bisa dimasukn ke list pemain yang dipersiapkan pelatih walau harus duduk di bangku cadangan lebih dulu saja saya sudah senang sekali.  Arseto itu seperti sebuah kebanggaan bagi saya," tuturnya.

Usai Arseto bubar dirinya mulai berkelana. Mulai dari Persedikab Kediri hingga Persela Lamongan.

Saat ini dirinya melatih klub Ben Iman FC yang terjun di kompetisi internal Persela.

”Tim ini bentukan kantor saya, yang aslinya perusahaan di bidang koperasi syariah. Kantor ingin punya klub sepakbola, dan saya kini fokus di pembinaan pemain," ucapnya yang sejak 2003 telah memutuskan menjadi mualaf,  dan menikah dengan wanita asal Solo, yakni Triwik Yuniawati. 

Dirinya engakui cukup kangen untuk kembali bermain dengan mantan pemain Arseto. Tahun lalu, Arseto sempat menggelar reuni akbar, dirinya juga ikut hadir kala itu.

”Saya bela-belain datang dari Lamongan ke Solo hanya ingin kembali bertanding dengan teman-teman lama saya. Tim ini sangat disegani dulu saat belum bubar, dan kenangan itu tak pernah tergantikan buat saya. Besyukur pernah jadi bagian dengan tim ini,” terangnya.  (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia