Minggu, 25 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Dua Kades Jalani Sidang Tipikor

Terkait Dana Desa dan Rekrutmen Perdes

19 Maret 2019, 22: 42: 20 WIB | editor : Perdana

TUNGGU NASIB: Kades Saradan saat ditahan Polres Sragen.

TUNGGU NASIB: Kades Saradan saat ditahan Polres Sragen. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Dua kepala desa (Kades) akan menjalani sidang tindak pidana korupsi (Tipikor) di Pengadilan Tinggi Semarang, hari ini (19/3). Mereka adalah Kades Doyong, Sri Widyastuti dan Kades Saradan, Anis Tri Waluyo.

Sri Widyastuti sidang terkait penyimpangan anggaran Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD). Kasus tersebut bermula dari temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang melakukan audit sejumlah proyek bersumber bantuan desa di Desa Doyong pada 2016 silam.

Hasilnya, BPK menemukan kerugian negara sebesar Rp 247,8 juta. Temuan tersebut lalu diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen. Dari hasil penyelidikan, Sri Widyastuti akhirnya ditahan Kejari pada 20 Juli 2018 lalu.

Sementara kasus yang menjerat Anis Tri Waluyo terkait rekrutmen perangkat desa (perdes). Kasus ini diungkap Polres Sragen. Anis Tri diduga korupsi dalam proses rekrutmen perdes pada 2018 lalu. Kepolisian menemukan indikasi unsur paksaan dan pemerasan dalam proses penerimaan perangkat desa.

Selain itu Anis Tri juga terindikasi delik pemalsuan sebagai penyelenggara negara atau kepala desa. Barang bukti yang diamankan yakni sejumlah uang yang sudah dikembalikan sebesar Rp 80 juta. Anis Tri mulai ditahan Polres Sragen sejak 10 Januari lalu.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sragen, Agung Riyadi mengatakan, berkas perkara keduanya sudah diserahkan ke Pengadilan Tinggi Semarang. Dia mengatakan jadwal sidang keduanya kebetulan bersamaan.

”Kebetulan saja jadwalnya sama-sama hari Selasa. Mereka ditahan di Lapas Sragen,” terang Agung kemarin.

Agenda sidang dengan terdakwa Sri Widyastuti masih tahap mendengarkan keterangan saksi. Sementara sidang Anis Tri sudah masuk pada putusan sela melihat dakwaan bisa dilanjutkan atau tidak.

”Kedua agenda ini harusnya Minggu lalu, namun hakim berhalangan, ada acara,” jelasnya.

Ditamabahkan, kasus Sri Widyastuti masih ada sekitar delapan persidangan lagi. Mengingat saksi cukup banyak. Sedangkan kasus Anis Tri akan berjalan kurang lebih hampir bersamaan dengan kasus Sri Widyastuti.

”Tahapannya masih panjang, kita masih harus pemeriksaan saksi, tuntutan, pledoi, tanggapan pledoi, replik duplik baru putusan, Anis lebih panjang tapi saksi lebih simpel,” bebernya.

Hingga kini, status jabatan ke dua kades tersebut sudah dinonaktifkan sejak ditetapkan sebagai tersangka. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia