Kamis, 19 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sapta Kunta Purnama, Tak Lelah Perjuangkan Nasib Atlet Disabilitas

Lega Bonus Atlet NPC Setara Atlet Normal 

21 Maret 2019, 10: 55: 59 WIB | editor : Perdana

TAK PERNAH MENYERAH: Sapta Kunta Purnama bersama Menpora Imam Nahrawi. 

TAK PERNAH MENYERAH: Sapta Kunta Purnama bersama Menpora Imam Nahrawi.  (DOK PRIBADI)

Share this      

Menjadi pahlawan tidak harus mengangkat senjata di medan perang. Namun bisa dilakukan dengan berbuat terbaik di bidangnya. Sapta Kunta Purnama memilih berjuang bagi bangsa melalui olahraga. Dia gencar menyuarakan kesetaraan untuk atlet disabilitas. Seperti apa perjuangannya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo

SAPTA Kunta Purnama ingat betul saat dirinya masih menjadi pelatih di National Paralympic Committee (NPC) Indonesia untuk cabang olahraga (cabor) bulutangkis. Kala itu pada 1989, keberadaan atlet disabilitas beserta pelatihnya kurang mendapat perhatian. Tak jarang para pelatih harus merogoh kantong sendiri untuk mengikuti kompetisi di luar negeri. Maklum, anggarannya terbatas. Inilah yang diperjuangkan Kunta dan Tim NPC Indonesia. 

Kunta, sapaan akrabnya, bertekad memperjuangkan kesetaraan hak untuk atlet disabilitas. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Bersama rekan-rekannya di NPC Indonesia, perjuangan Kunto membuahkan hasil. Pemerintah mulai menaruh perhatian kepada para atlet disabilitas. Satu kata yang ia rasakan saat itu: lega.

“Akhirnya atlet disabilitas bisa disetarakan. Kira-kira mulai 2011, keberadaan mereka mulai diperhatikan. Kesetaraan ini bentuknya bermacam-macam. Mulai dari pembinaan, bonus, dan lain sebagainya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sebagai bentuk rasa terima kasih, para atlet disabilitas ini pun mulai menunjukkan taring. Prestasi yang diraih sangat membanggakan. Setelah kurang lebih 25 tahun Indonesia selalu terpuruk di ajang Asian Para Games (APG). Mereka membuktikan kemampuannya pada 2013 silam, saat gelaran APG di Myanmar. Indonesia berhasil membawa pulang gelar juara umum.

Dua tahun setelahnya, di ajang APG Singapura pada 2015, Indonesia juga menyabet juara 2. Disusul dua tahun kemudian, APG di Malaysia pada 2017, lagi-lagi Indonesia meraih gelar juara umum. Terbaru, Indonesia menduduki posisi kelima saat gelaran APG yang terselenggara di Tanah Air tahun lalu.

“Jadi kami sebagai pengurus NPC Indonesia itu bangga jika melihat para atlet disabilitas di Indonesia ini bisa mengharumkan nama negeri ini. Mereka bisa memperoleh bonus sama dengan atlet normal. Bahkan ada yang diangkat menjadi PNS dan memperoleh rumah,” beber wakil dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.

Kunto memulai karirnya sebagai pelatih bulutangkis di NPC Indonesia sejak ia masih menjadi mahasiswa. Kecintaannya terhadap bulutangkis sudah ia rasakan sejak kecil. Tepatnya saat duduk di bangku sekolah dasar. Tak hanya hobi, bulutangkis juga pernah membawanya berprestasi hingga di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

“Hanya saja saat itu untuk menjadi atlet bulutangkis, persaingannya sangat ketat. Sehingga kemungkinannya sangat kecil. Untuk itu saya memilih untuk menjadi pelatih. Bagi saya, perjuangan di bidang olahraga itu tidak hanya dengan menjadi atlet. Tapi juga bisa menjadi seorang pelatih,” katanya.

Selepas tamat SMA, Kunta memperoleh beasiswa ikatan dinas dari pemerintah dan melanjutkan studi di Program Studi (Prodi) Pendidikan Olahraga FKIP UNS. Karirnya di UNS pun dimulai usai ia diterima menjadi dosen pada 1993.

“Dua tahun kemudian, saya berkesempatan studi lanjut ke Jakarta. Di sana saya memiliki akses ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Saya banyak menyumbang ide yang lantas diterapkan Kemenpora. Terkait pengembangan bakat para atlet, pemanduan bakat, dan lain sebagainya,” sambungnya.

Pada 2009, Kunta kembali mengambil studi lanjut program doktor di Jakarta. Ia mengangkat tentang bulutangkis sebagai disertasinya. Atas penelitiannya itu, Kunta pun ditunjuk menjadi pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Pusat.

“Sampai sekarang, saya masih aktif membantu di PBSI Pusat. Semoga peran saya bisa membuat organisasi PBSI semakin maju. Saat ini, saya juga aktif menjadi tim teknis Kemenpora,” ujarnya. (*/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia