Minggu, 25 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pemprov Jateng Kompak Eliminasi Penderita TB

21 Maret 2019, 12: 34: 57 WIB | editor : Perdana

OPTIMISTIS: Sosialisasi pemberantasan penyakit TB terus gencar dilakukan pemerintah. 

OPTIMISTIS: Sosialisasi pemberantasan penyakit TB terus gencar dilakukan pemerintah.  (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis dapat menurunkan insiden tuberkulosis (TB) hingga mencapai 90 persen pada 2030. Untuk mencapai target dari Kementerian Kesehatan itu, koordinasi dengan pemerintah kabupaten/ kota makin diintensifkan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tatik Murhayati mengatakan, temuan kasus TB per 100 ribu penduduk di Jateng pada 2018 baru berjalan 50 persen. Artinya, dari 300 kasus, pihaknya baru menemukan 143 kasus dalam penanganan. Hal ini menjadi sisa pekerjaan rumah yang wajib diselesaikan. 

Karena itu, pihaknya terus mendorong instansi kesehatan di tingkat kabupaten dan kota untuk menyisir warga hingga ke pelosok untuk menemukan penderita TB. “Kalau ini dilakukan secara masif dan kontinu, pada 2020 pemerintah lebih mudah mengeleminasi virus ini. Dan harapannya pada 2030 penurunan insiden TB mencapai 90 persen,” papar Tatik. Seminar Tuberkulosis Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBPKM) Surakarta, Rabu (20/3). Dalam giat tersebut hadir 22 instansi kesehatan dan instansi pemerintahan, seperti dinas kesehatan, dinas perhubungan dan informatika, dan dinas lingkungan hidup di eks Karesidenan Surakarta.  

Berdasarkan data Kemenkes, Indonesia menjadi negara ketiga yang memiliki beban penderita TB terbanyak setelah India dan Tiongkok. Pada 2017 lalu, terdapat 842.000 penderita TB di Indonesia. Dan 49.520 kasus di antaranya terdapat di Jateng. Karena itu, cakupan penemuan kasus TB perlu ditingkatkan agar seluruh pasien TB dapat diobati. 

“Pada 2016 lalu Indonesia mendapat urutan kedua soal penderita TB terbanyak. Berkat dorongan Kemenkes dan instansi kesehatan dalam menemukan kasus TB, 2017 lalu Indonesia turun di peringkat tiga. Di sisi lain, ini menambah kasus baru lantaran virus TB menjadi resisten obat (kebal terhadap obat),” beber Tatik.

Kepala BBKPM Surakarta Yudhaputra Tristanto menambahkan, bahwa penanganan TB di Solo telah menyentuh 600-700 kasus setiap tahunnya. Mengingat cakupan kerja BBKPM yang menangani di Wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB dan seluruh Kalimantan terus sosialisasi dan menemukan penderita TB melalui supervisi di tingkat puskesmas dan rumah sakit di kota/kabupaten.

“Karena itu, kami terus berupaya menemukan kasus TB yang di tengah masyarakat melalui supervisi kami,” ujar Yudhaputra. (ves/kom)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia