Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Bumdes Jotangan Garap Terowongan Peninggalan Belanda

21 Maret 2019, 21: 08: 08 WIB | editor : Perdana

POTENSIAL: Terowongan saluran irigasi di Desa Jotangan, Bayat.

POTENSIAL: Terowongan saluran irigasi di Desa Jotangan, Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Di Desa Jotangan, Kecamatan Bayat terdapat terowongan saluran irigasi. Tepat di bawah Bukit Pegat. Potensi ini akan digarap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jotangan sebagai destinasi wisata air tubing.

Pemerintah Desa (Pemdes) tahun ini bakal menggelontorkan anggara Rp 270 juta untuk penataan awal. Nantinya bakal digadang menjadi objek wisata tubing terowongan saluran irigasi pertama di Jawa Tengah. Penjabat (Pj) Kepala Desa Jotangan, Supono mengungkapkan, terowongan irigasi ini sepanjang 1,5 km. Menghubungkan Desa Jotangan dengan Desa Krakitan.

”Cukup potensial jadi wisata tubing. Apalagi saluran ini tembus perbukitan yang menghubungkan dua desa. Belum lagi dari sisi sejarah. Bangunan ini merupakan peninggalan zaman Belanda,” jelas Supono saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di ruang kerjanya, Rabu (20/3).

Pemerintah desa setempat serius mengelola saluran irigasi yang bersumber dari Rowo Jombor ini. Melalui pembentukan BUMDes. Pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada pemuda setempat. Termasuk konsep wisata tubing tersebut.

Tahap awal, fokus menata pintu keluar terowongan saluran irigasi tersebut. Termasuk saluran air sepanjang 300 meter di wilayah Desa Jotangan. Di dalamnya terdapay terowongan berlapis semen, serta tiga sumur sirkulasi udara.

”Memang pintu masuknya di Desa Krakitan, sehingga ke depan perlu adanya kerja sama. Pintu masuk dari terowongan saluran ini berdiameter 1,5 meter. Tetapi jika masuk ke dalamnya, diameternya semakin tinggi,” jelas Supono.

Anggota BUMDes Jotangan, Agus Budi, 35, mengklaim terowongan saluran irigasi ini aman. Karena sering dimasuki warga saat mencari ikan. ”Saat masuk ke dalam gelap sekali. Jadi saat tubing, butuh penerangan,” bebernya.

Objek menarik lainnya, yakni batuan stalaktit dari langit-langit terowongan. Tepat di bawah Bukit Pegat. Terbentuk secara alami. ”Estimasi biaya penataan sekitar Rp 1,5 miliar. Minimal untuk bisa menjadi objek wisata air yang layak untuk dikunjungi, butuh waktu penggarapan selama lima tahun,” ujar Supono.

Romi, 29, warga Desa Jotangan mengaku sering menyusuri terowongan ini. ”Waktu yang tepat untuk menyusuri saat musim kemarau, karena arusnya tidak deras. Butuh waktu sekitar 1 jam. Saya biasa mancing dapat ikan nila, gurame, dan lele,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia