Sabtu, 20 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Regulasi Difabel Tersedia, Kesempatan Belum Merata

22 Maret 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

BEKALI SKILL: Penyandang disabilitas tuna netra dibekali keterampilan mengetik huruf braile di panti sosial Laweyan, Solo.

BEKALI SKILL: Penyandang disabilitas tuna netra dibekali keterampilan mengetik huruf braile di panti sosial Laweyan, Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Berbagai regulasi tentang kesetaraan hak penyandang disabilitas sudah ada. Namun, dalam realisasinya masih banyak dari mereka kesulitan dalam mencari kerja hingga hari ini. Karena itu, perlu bekal keahlian berkelanjutan agar kemampuan penyandang disabilitas bisa benar-benar tersalurkan ke dunia kerja atau bisa mandiri berwirausaha. 

Seperti kegiatan di sebuah klinik pijat tunanetra di Laweyan kemarin. Para penyandang disabilitas diberi arahan, pelatihan, dan pemahaman soal kemungkinan pencapaian kerja yang paling masuk akal untuk direalisasikan. 

“Tujuan pelatihan ini untuk memberdayakan dan mengarahkan penyandang disabilitas agar memiliki kesempatan kerja yang lebih baik,” ujar penanggung jawab kegiatan Nicki Clara di sela kegiatan kemarin. 

Pihaknya merasa prihatin bahwa meski banyak regulasi ketenagakerjaan sudah dibuat. Tetap saja penyandang disabilitas belum mendapat banyak kesempatan dalam persaingan dunia kerja. Karena itu, pihaknya mulai membina sejumlah penyandang disabilitas. 

“Kami mulai 2011 lalu di Jakarta, sedikitnya 350 penyandang disabilitas terlibat dalam pembinaan, pelatihan, pendampingan, serta evaluasi dalam dunia kerja. Prosesnya kami lakukan  selama enam bulan,” ujar dia. 

Pendampingan tidak hanya pemberian keterampilan. Namun  lebih pada peningkatan potensi penyandang disabilitas dalam melihat kesempatan kerja yang tersedia di wilayah tersebut. Alasan inilah yang membuat pihaknya mulai mengenalkan program ini pada 10 kota berbeda, termasuk di Solo. 

“Berdaya, merupakan mandiri secara ekonomi, baik bekerja di perusahaan atau menciptakan lapangan kerja sendiri. Jadi harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan wilayah mereka,” beber dia. 

Kegiatan yang diikuti 157 penyandang disabilitas itu akan dilakukan beberapa bulan ke depan. Nantinya, diharapkan para penghuni panti memiliki informasi dan makin terbuka akan perkembangan informasi untuk meningkatkan capaian kerja. 

“Kami merasa bangga karena tempat ini jadi jujugan pelatihan. Kami harap, penghuni panti bisa menjadi lebih kreatif dan tidak tergantung dengan situasi atau orang lain. Mereka harus bisa menciptakan kesempatannya sendiri,” tutur Kepala Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama Surakarta, Sri Miyatun. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia