Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Hargai Kesehatan Gigi, Jaga Kebersihan

23 Maret 2019, 11: 25: 59 WIB | editor : Perdana

RUTIN: Pemeriksaan kesehatan gigi di RS Indriati Solo Baru.

RUTIN: Pemeriksaan kesehatan gigi di RS Indriati Solo Baru. (SERAFICA GISCHA P/RADAR SOLO)

SOLO BARU – Maret merupakan Bulan Kesehatan Gigi Nasional. Sayangnya, banyak yang terlalu menyepelekan kebersihan gigi. Imbasnya banyak penyakit yang timbul dari kondisi gigi yang tidak bersih.

Kesehatan gigi dan mulut berkaitan erat dengan kesehatan tubuh. Tak cukup menyikat gigi, rutinitas seperti menggosok gigi, membersihkan rongga mulut, dan membersihkan karang gigi menjadi rangkaian yang harus rutin dilakukan.

Dokter gigi Rumah Sakit Indriati Solo Baru, drg. Devi Nindya Kusuma mengatakan, kondisi gigi dan mulut bermasalah bisa mempengarhui kesehatan tubuh secara keseluruhan. Terlebih jika sudah terjadi infeksi pada gusi atau gigi. Dapat menyebar ke dalam jaringan tubuh lain. Memastikan gigi tetap sehat, perlu melakukan gaya hidup sehat. Terkait pola makan dan rutin periksa ke dokter gigi.

”Sariawan, gigi berlubang, gusi bengkak, dan bau mulut contoh kesehatan gigi yang buruk. Kalau sudah seperti itu, harus ada tindakan. Bukan masalah makan atau minumam yang dikonsumsi. Tetapi bagaiman habbit atau gaya hidup membersihkan giginya. Rutin atau tidak?” jelas Devi kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (22/3).

Devina membantah makan atau minum dingin kemudian panas bisa merusak gigi. Sebab gigi sehat sangat kuat. Di beberapa kasus kecelakaan, indentivikasi korban melalui gigi. Penyebab gigi rusak yakni rutin atau tidaknya orang tersebut membersihkan gigi. Sikat gigi harus rutin. Minimal dua kali, yaitu pagi sesudah sarapan dan malam sebelum tidur.

”Makanan dan minuman dingin kemudian panas harus dihindari bagi gigi yang ditambal. Karena elemen penambal gigi tidak sekuat asli. Mudah memuai ketika panas, kemudian hilang. Jika kondisi gigi sehat, kerusakan tidak terjadi akibat makan. Tetapi karna malas gosok gigi,” bebernya.

Devi mengimbau masyarakat rutin memeriksa gigi minimal 6 bulan sekali dan maksimal 1 tahun. Jangan hanya datang ke dokter saat sakit saja. ”Kalau orang tua harus melakukan tindakan gigi, sebaiknya tidak mengajak anak. Agar tidak timbul trauma atau stigma negatif bahwa ke dokter gigi mengerikan,” tandasnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia