Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Guyang Sapi Bukan Sekadar Tradisi

24 Maret 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

WARISAN NENEK MOYANG: Warga menggelar tradisi guyang sapi di Kedung Tanggul Rejo Guyub Rukun, Dukuh Bunder Jarakan, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Sabtu (23/3). Kegiatan ini sebagai ungkapan syukur karena hewan ternak sehat.

WARISAN NENEK MOYANG: Warga menggelar tradisi guyang sapi di Kedung Tanggul Rejo Guyub Rukun, Dukuh Bunder Jarakan, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Sabtu (23/3). Kegiatan ini sebagai ungkapan syukur karena hewan ternak sehat. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Masyarakat Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom menggelar beragam tradisi sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta sejak Jumat (22/3). Mulai dari doa bersama oleh umat kristiani dan muslim, pagelaran wayang janturan, memandikan sapi, hingga laku suweng cokro manggilingan. 

Yakni mengelilingi desa sejauh 3 kilometer pada tengah malam tanpa menggunakan alas kaki maupun saling berbicara satu sama lain. Mereka berdoa dalam hati, salah satunya mensyukuri melimpahnya air tadah hujan.

Puncaknya, Sabtu (23/3), warga tiga dusun yakni Bunder, Jarakan dan Pagoh melaksanakan tradisi guyang sapi. Dimulai dari mengeliling desa hingga berakhir di embung setempat. Terdapat 50 ekor sapi milik warga dimandikan secara bersama-sama memanfaatkan air tadah hujan.

Tepat di pinggir embung, warga menggelar kenduri sebagai ucapan syukur atas limpahan rahmat-Nya. Puluhan orang membawa sajian dari rumah seperti nasi, sayur trancam, ayam ingkung, jajanan pasar, dan pisang. Usai didoakan tokoh agama, mereka bersantap bersama-sama.

"Kenduri merupakan tradisi yang sudah turun temurun sejak nenek moyang kita. Sedangkan untuk doa yang dilakukan lintas iman, hingga kirab, merupakan hasil pengembangan beberapa tahun ini. Nyatanya agama dengan budaya bisa berjalan saling beriringan," jelas Mukijo, warga Dusun Jarakan, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom.

“Melalui tradisi ini kita berharap kedamaian dan guyub rukun antarwarga. Terlebih lagi kita akan melaksanakan pemilihan legislatif dan presiden. Meski pilihan kita berbeda, tetapi keguyuban dan ketenteraman tetap terus dijaga,” imbuhnya.

Selama ini, Desa Bandungan yang memiliki jumlah pendududk 3.200 jiwa dengan 800 kepala keluarga (KK) tidak memiliki sumber mata air. Untuk kebutuhan air bersih, warga memanfaatkan air tadah hujan yang ditampung dalam bak air di rumah masing-masing. Jika pada musim kemarau persediaan air habis, mereka membeli air tangki secara mandiri.

Sedangkan embung berdiameter 30x30 meter dengan kedalaman dua meter tersebut dibangun sejak 1956. Dahulu, airnya juga untuk dikonsumsi. Tapi, sekarang lebih banyak untuk memandikan hewan ternak dan pengairan pertanian.

Sekretaris Desa (Sekdes) Bandungan Budi Setyawan mengapresiasi upaya masyarakat menjaga tradisi. Terlebih melibatkan banyak elemen, termasuk generasi muda.

“Embung ini juga disebut warga dengan nama Kedung Tanggulrejo Guyub Rukun. Tradisi ini tetap kita pertahankan,” tandasnya.  (ren/wa)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia