Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Lebih Dekat dengan Tiara Debby Carinda, Dokter Hewan TSTJ

24 Maret 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

SUPEL: Tiara Debby Carinda ditemui di sela aktivitasnya merawat koleksi satwa di TSTJ.

SUPEL: Tiara Debby Carinda ditemui di sela aktivitasnya merawat koleksi satwa di TSTJ. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Nyali dokter hewan yang satu ini tidak bisa dianggap sepele. Ketika teman-teman seprofesinya memilih jalur yang lebih “safety”, Tiara Debby Carinda malah senang berinteraksi dengan hewan buas.

A.CHRISTIAN, Solo 

SEJAK kanak-kanak, dara yang akrab disapa Debby ini memang mencintai satwa. Lulus SMA, dia masuk jurusan kedokteran hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Ketertarikannya dengan dunia binatang semakin kuat.

“Waktu magang, yang lain pilih perternakan, saya pilih balai konservasi satwa,” katanya. Lulus dari UGM, dia mengabdikan diri di TSTJ. Kali pertama berhadapan langsung dengan hewan buas, rasa gugup sempat hinggap. Takut jika salah langkah satwa malah menyerang.

“Buka buku lagi bagaimana cara menanggulanginya. Awalnya tangani hewan jinak dulu. Setelah terbiasa, baru merawat macan, beruang, orang utan, buaya dan lainnya,” ujar perampuan kelahiran Wonogiri 31 Maret ini.

Ketika bertugas, Debby tetap meminta pendampingan dari keeper masing-masing satwa. Karena mereka yang setiap hari berinteraksi dengan hewan tersebut sehingga lebih paham karakternya. “Tugasnya (keeper,Red) cuma memancing saja dengan makanan. Kalau untuk injeksi, tetap saya yang lakukan,” ungkapnya.

Debby paham, satwa memiliki insting kuat. Sekali merasa tidak suka, akan terekam di memori mereka. Seperti pengalamanya dengan seekor unta jantan dewasa. Dia pernah melakukan suntikan kepada unta tersebut. Sehari setelah itu, ketika Debby melintas di dekat unta yang sama, satwa gurun tersebut mengejar dan seakan ingin menabraknya.

Dari peristiwa tersebut, Debby lebih ekstrawaspada. Kali ini, usai memberikan pertolongan pertama, perempuan murah senyum ini memberikan pakan kesukaan si satwa.

“Biar nggak ada rasa dendam. Jadi ketika sakit dan butuh pertolongan, satwa tidak takut. Ternyata strategi ini berhasi,” ujarnya.

Nah, khusus untuk injeksi kepada harimau, lanjut Debby, tidak bisa dilakukan secara langsung. Tapi, menggunakan alat bantu berupa tulup. Cara lainnya, mencampurkan obat pada pakan.

Tindakan ekstrawaspada lainnya, Debby selalu menerapkan standard operating procedure (SOP). Dia tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun dalam penanganan satwa yang sakit. “Selain itu, antara keeper dan dokter saling kerja sama. Kita satu tim, saling melindungi satu sama lain,” kata dia.

Memilih profesi dokter, sambungnya, juga punya konsekuensi stand by 24 jam. Itu guna mengantisipasi satwa yang sakit pada malam hari. Contohnya, pada musim penghujan saat ini, penyakit yang sering menyerang adalah kembung dan masuk angin. Sebagai antisipasi, di kandang hewan dipasang lampu pemanas. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia