Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Resiko Kerja Pawang Hewan

Kurangi Ancaman dengan Pelatihan Keeper

24 Maret 2019, 11: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, Kepala Taman Satwa Taru Jurug

Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, Kepala Taman Satwa Taru Jurug

Share this      

MENGINGAT risiko seorang keeper cukup tinggi, mereka diwajibkan ikut pelatihan oleh Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI). Mereka akan dibekali cara merawat dan memiliki ikatan batin dengan hewan yang dirawatnya.

“Kemudian kalau ada sesuatu yang kita tidak inginkan bersama, bagaimana cara penanganannya, penanggulangan dan pencegahannya,” terang Kepala Taman Satwa Taru Jurug Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso. 

Saat ini, TSTJ memiliki sekitar 40 keeper yang intens mengurus 386 jenis satwa. Setiap keeper dijatah merawat satu hingga dua jenis satwa tergantung tingkat kebuasannya. “Yang kategori buas antara lain gajah, harimau, macan tutul, buaya, kudanil, ular, dan orangutan,” kata dia.

Ke depan, lanjut Bimo, TSTJ membuka diri memberikan pelatihan, di antaranya kepada personel Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk penanganan hewan buas. “Teori bisa dengan dua dokter hewan kita. Kalau praktik lapangan bisa dengan keeper,” jelasnya.

Dokter hewan TSTJ Siti Nuraini menambahkan, jika tidak diusik atau merasa terancam, hewan buas tidak akan menyerang. Sebab, satwa layaknya manusia. Bila mendapatkan kasih sayang, mereka akan membalas hal serupa.

Tapi, seluruh petugas TSTJ harus tetap waspada. Karena pada beberapa kondisi, satwa bisa menjadi arogan dan menyerang. Di antaranya saat musim kawin, hewan menjadi lebih agresif dan sensitif.

Dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini juga pernah merasakan diserang hewan. Yakni orang utan. “Waktu itu mau diobati. Orang utan hafal rasa obatnya pahit, jadi terpaksa disuntik,” ujarnya. Sayangnya, Nuraini saat hendak menyuntik kurang waspada. Ketika mendekat, tangannya langsung ditangkap orang utan lalu diserang. “Untungya ada pawangnya, saya langsung dibantu. Dari situ saya belajar (pahami karakter satwa,Red),” ungkapnya.

Soal penyakit yang kerap menjangkiti hewan di TSTJ, Nuraini menyebut diare. Namun, bukan dari makanan dari pengelola tempat konservasi satwa tersebut, tapi dari pengunjung iseng.

Sebagai langkah antisipasi, satwa diberikan obat cacing agar kebal dari diare dan vitamin. Pengunjung juga diimbau tidak memberikan makanan dalam bentuk apapun kepada satwa. “Kita selalu koordinasi dengan pawang masing-masing hewan. Kalau sudah ada tanda-tanda nafsu makan menurun, agar segera dilaporkan untuk cepat ditindaklanjuti,” pintanya.

Ditambahkan Nuraini, untuk satwa yang mati, petugas akan membuat surat kematian berisi visum, jenis penakit, dan langkah medis yang telah dilakukan guna pertanggungjawaban kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia