Senin, 21 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Features

RIOT Solo, Karena Lari Sudah Jadi Kebutuhan

24 Maret 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

RIOT Solo, Karena Lari Sudah Jadi Kebutuhan

Olahraga lari mulai digemari generasi muda di lima tahun terakhir. Kini, lari tidak hanya sekadar olahraga, tapi sudah menjadi sebuah lifestyle.

SELAMA ini generasi muda cukup sulit untuk diajak berolahraga. Aktivitas lari selalu didominasi orang tua berusia di atas 40 tahun. Kini berganti zaman, berganti pula kebiasaan. Generasi milenial mulai menekuni olahraga yang dianggap paling murah ini.

”Seperti gym, lima tahun lalu olahraga itu berubah jadi lifestyle. Orang-orang datang ke tempat gym sudah tidak lagi olahraga, tapi juga kebutuhan sosialita. Begitu juga pula lari, mungkin berawal dari hanya ikut-ikutan, atau agar feeds instagram-nya bagus dengan foto larinya. Tapi ini bagus, lari sudh menjadi kebutuhan karena lifestyle yang sehat,” beber Dion Kusuma, Captain RIOT Solo kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dion tidak memungkiri kesibukan pekerjaan atau aktivitas lainnya membuat pelari tidak sempat berlatih. Butuh running buddies atau teman lari untuk memacu semangat.

Dion biasa ‘memaksakan diri’ berlari saat Sabtu pagi di Stadion Sriwedari. Bersama dengan 8-9 running buddies yang juga rutin berlatih, Dion berinisiatif membentuk sebuah komunitas lari, yakni Running Is Our Therapy (RIOT) Solo.

”Total membernya 37 orang. Tapi yang aktif 20 orang, karena beberapa bekerja di luar kota, mereka kurang aktif berlatih bersama. Tapi kami tetap bisa bertemu mereka saat ada event lari di kota tempat mereka berdomisili sekarang,” sambungnya.

RIOT tidak hanya berada di Kota Bengawan. Ada 11 kota yang membuka cabang RIOT, salah satunya Kota Solo. Bali menjadi kota perdana RIOT berdiri, tepatnya pada 2016 silam. Baru berikutnya 10 kota lain menyusul. Yakni Jakarta, Surabaya, Banjarmasin, Palu, Gorontalo, Lombok, Bandung, Makasar, Solo, dan Jogja.

”Solo jadi kota cabang ke sembilan. Kenapa saya memilih membuka cabang komunitas lari yang sudah ada? Karena saat kami berada di sepuluh kota tersebut, kami tetap punya teman lari dalam satu komunitas yang sama,” koar Dion.

Salah seorang member RIOT Solo, Bony ‘Masbon’ mengaku merasakan manfaat lebih selama bergabung komunitas ini. Tak hanya sekadar komunitas lari, Bony menemukan keluarga baru. Ia banyak mendapat support, bahkan di luar kegiatan berlari.

”Enggak ada yang namanya lari sendiri, selalu ada teman yang kasih semangat buat berjuang. Saya banyak belajar dari teman-teman RIOT, terutama soal dukungan mereka yang luar biasa. Pernah saya cedera kaki, mereka bareng-bareng lari jemput dan nemenin saya sampai finish,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia