Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Lega, Mantan Kades yang Tipu Tukang Becak Sukoharjo Akhirnya Dibui

24 Maret 2019, 21: 50: 15 WIB | editor : Perdana

LEGA: Korban Prawoto (Kanan) bersama Pengacaranya Haryo Anindito (kiri) memberikan keterangan pada wartawan. 

LEGA: Korban Prawoto (Kanan) bersama Pengacaranya Haryo Anindito (kiri) memberikan keterangan pada wartawan.  (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO )

Share this      

SOLO - Setelah menanti sekian lama, Prawoto, 48, yang menjadi korban penipuan dan penggelapan mantan kepala desa (kades) di Sukoharjo kini bernafas lega. Sopir becak yang biasa beroperasi di sekitar Pasar Legi, Solo itu kini bisa memegang serifikat tanahnya lagi yang sempat ditahan karena urusan piutang. 

Minggu (24/3), warga  Ngronggah RT 04/RW 08, Kelurahan Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo ini mengundang sejumlah awak media untuk syukuran lantaran kasus yang melibatkan dia dengan sang mantan kades telah usai.

"Intinya saya puas dan berterima kasih kepada kantor hukum Sambuwana Jaya Lawfirm, Polres Sukoharjo, dan semua pihak yang membantu kasus ini terungkap," ucap Prawoto. 

Prawoto mengaku lega, sang mantan kades berinisial AS itu mendapat hukuman 14 bulan penjara. Meski proses banding juga bisa dilakukan terdakwa, paling tidak ia lega karena pelaku penipuan dan penggelapan itu mendapat konsekuensi atas perbuatannya.

"Saya harap masyarakat kecil yang memiliki kasus serupa atau kejadian lain untuk tak segan melaporkan kepada kepolisian," beber dia.

Sebagai informasi, kasus bermula saat Prawoto meminjam uang Rp 400 ribu kepada AS untuk biaya praktik sekolah anak. Prawoto merasa percaya kepada AS, sehingga ia berani menjaminkan sertifikat tanah HM No.3486 seluas 115 meter persegi pada 2008.

Seiring perjalanan waktu, Prawoto melunasi hutang sebesar Rp 400 ribu itu pada 2011. Namun, sertifikat jaminannya ditahan AS dengan alasan aman disimpan. 

Sayangnya, AS malah pindah dari rumahnya di Desa Sanggrahan ke Wonogiri pada 2013. Selang dua tahun kepindahan AS, Prawoto didatangi seseorang yang kemudian menerangkan bahwa sertifikatnya digadaikan oleh AS kepada SPJ dengan uang sebesar Rp 20 juta.

Berbagai upaya telah dilakukan Prawoto agar sertifikat tanah yang sudah jadi haknya bisa kembali. Akhirnya, dia didampingi penasihat hukum melaporkan pejabat desa itu ke polisi.  (ves/ria)

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia