Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Hasil Evaluasi Simulasi Pemilu Boyolali, Lansia Susah Buka Surat Suara

25 Maret 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Perdana

BUTUH PENDAMPINGAN: Seorang penyandang disabilitas dilibatkanb dalam simulasi pemilu di Dukuh Karang Lor RT 03 RW 06, Desa Jurug, Mojosongo, Boyolali, Minggu (24/3).

BUTUH PENDAMPINGAN: Seorang penyandang disabilitas dilibatkanb dalam simulasi pemilu di Dukuh Karang Lor RT 03 RW 06, Desa Jurug, Mojosongo, Boyolali, Minggu (24/3).

Share this      

BOYOLALI – Pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019 tinggal menunggu beberapa hari lagi. Tapi sebagian besar masyarakat belum mengetahui cara membuka surat suara yang benar. Khususnya para lansia. Fakta ini terkuak saat simulai pemilu di TPS 11, Dukuh Karang Lor, RT 03 RW 06, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, Minggu (24/3)

Tugiyatmi, 62, warga Desa Jurug mengaku kesulitan membuka dan melipat kembali surat suara. Belum lagi dia harus mencoblos lima surat suara dengan warna berbeda. Yakni warna kuning untuk Pileg DPR RI, merah untuk DPD RI, biru untuk DPRD Provinsi, hijau untuk DPRD daerah/kota, serta abu-abu untuk Presiden dan Wakil Presiden.

”Dibuka susah sekali, kalau dipaksa takut sobek dan rusak. Belum lagi bingung pilih gambar wakil rakyatnya. Tidak ada yang kenal. Terus melipatnya lagi juga susah,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Saat simulasi, terlihat warga yang berusia di atas 50 tahun butuh waktu sekitar 10 menitan. Kesulitan membuka dan menutup kembali lipatan surat suara. Padahal waktu ideal pagi satu daftar pemilih tetap (DPT) sekitar 3-5 menit.

”Lansia ternyata butuh waktu lama. Dalam hal pelipatan juga. Kami ketemukan masih ada kekeliruan. Temuan ini harus segera dilakukan evaluasi agar pelaksanaan pemilu nanti berjalan lancar,” kata Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boyolali, Siti Ulfa.

Ulfa menambahkan, dari simulasi ini, KPU dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk penyelenggaran pemilihan. Mulai dari proses pemungutan hingga penghitungan surat suara. KPU Boyolali juga mengajak seluruh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di 19 Kecamatan untuk hadir dalam simulasi ini.

”Setelah simulasi ini, kami akan adakan bimtek kepada PPK. Kemudian PPK bisa memberikan pengarahan ke PPS (Panitia Pemungutan Suara) dan KPPS (Kelompok Penyelengara Pemungutan Suara),” terang Ulfa.

Sementara itu, tahapan simulasi berjalan lancar. Di depan TPS ada papan informasi yang cukup memadahi. Pemilih yang datang dan menyerahkan undangan atau KTP, secara bergantian melakukan pencoblosan di bilik suara. Surat suara yang sudah tercoblos kemudian dilipat lagi. Dimasukkan ke dalam lima kota suara sesuai warnanya.

Pemilih yang sudah selesai mencoblos diminta menyelupkan jarinya ke dalam tinta. Setelah itu, pemilih diminta mengisi daftar absensi. Kemudian diberi makanan ringan dan boks, serta amplop berisi uang Rp 50 ribu.

Ulfa menyebut simulasi ini sangat penting untuk mengetahui gambaran riil, pelaksanaan pemilu, 17 April mendatang. ”PPS akan paham dengan pengisian berbagai macam jenis formulir. Terutama pada KPPS, agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan,” terang Ulfa. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia