Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Saking Lihai Bikin Replika Keris, Sulit Dideteksi Kasat Mata

26 Maret 2019, 00: 03: 02 WIB | editor : Perdana

Saking Lihai Bikin Replika Keris, Sulit Dideteksi Kasat Mata

TIDAK semua orang bisa membedakan mana keris asli dan replika. Pasalnya dengan kecakapan tangan sang empu, bisa mereplika keris serupa dengan pusaka agung peninggalan empu pendahulunya maupun milik kerajaan.

Salah satu kurator keris asal Solo, Ronggojati Sugiyatno menuturkan, membedakan keris asli atau replika memang ada ilmunya. “Kalau tidak dilihat langsung akan susah, sebab sekarang barang baru bisa dilamakan. Pandangan kasat mata akan sulit, apalagi sekarang empu kita makin pinter-pinter,” katanya

Ronggojati  mengungkapkan, memang ada metode yang digunakan seorang kolektor atau pecinta senjata pusaka untuk membedakan keris lama dan baru. Pertama, dari ciri-ciri bentuknya, material dan dari teknik tempaannya. Untuk material, pria ini menegaskan jika keris yang asli merupakan perpaduan tempaan inti biji besi, yaitu baja dan batu meteor yang mengandung nikel serta titanium.

“Kemudian dari sisi berat, untuk keris lama lebih berat, karena bahan bakunya bukan besi pabrikan, jadi pori-pori lebih besar. Hal tersebut menyebabkan biji besi tercampur dengan pasir. Beda kalau keris zaman sekarang dari besi pabrikan yang sudah bersih dari pasir,” urainya.

Meski begitu, menduplikat keris bukanlah hal yang dilarang, bahkan legal. Hal ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan. Sebab, para empu lama tidak lagi membuat pusaka sejak berakhirnya zaman Mataram. Sehingga jumlahnya sangat sedikit.

Baca Juga: Para Empu Keris Menjaga Warisan Budaya 

“Padahal karya mereka harus dikenalkan kepada khalayak, terutama generasi penerus. Kalau cuma satu berarti ada perlakuan khusus. Ketika disimpan tidak boleh dibawa ke mana-mana, mengingat harganya tidak ternilai. Sehingga keris duplikat ini yang dibawa untuk pameran,” imbuh Ronggojati.

Selain itu, dengan menduplikat keris pusaka agung, merupakan salah satu cara para empu zaman sekarang untuk meningkatkan keahlian mereka, selain membaca dari buku. “Mungkin secara fisik serupa, namun secara filosofi berbeda,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia