Kamis, 19 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pemkab Tetapkan Zona Merah Larangan PKL

26 Maret 2019, 19: 48: 41 WIB | editor : Perdana

STERIL DAN BERSIH: Sejumlah jamaah usai beribadah salat di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten, Senin (25/3). Kawasan ini termasuk zona merah larangan PKL.

STERIL DAN BERSIH: Sejumlah jamaah usai beribadah salat di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten, Senin (25/3). Kawasan ini termasuk zona merah larangan PKL. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten sudah menetapkan kawasan zona merah bagi pedagang kaki lima (PKL). Ditegaskan dalam peraturan bupati (Perbup) Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penetapan Lokasi PKL. Perbup ini mulai disosialisasikan kepada PKL melalui roadshow di 14 kecamatan.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM, Bambang Sigit Sinugroho mengungkapkan, sosialisasi menyasar 14 kecamatan yang banyak dihuni PKL. Dari roadshow ini, diharapkan PKL memahami tiga zona yang telah ditetapkan pemkab agar tidak menyalahi aturan.

”Perbup itu sudah dibagi tiga zona. Yakni merah, kuning, dan hijau. Khusus zona merah, ini yang tidak boleh digunakan untuk PKL. Kami sudah menetapkan lokasinya mana saja,” terang Bambang kepada Jawa Pos Radar Solo usai sosialisasi di Aula Kantor Kecamatan Klaten Selatan, Senin (25/3).

Zona merah mencakup kawasan depan kantor kecamatan, rumah sakit, dan bank. Diterapkan agar tidak menutup fasilitasi umum. Dan masyarakat bisa mengetahui keberadaannya selama 24 jam penuh. Bagi PKL yang berjualan di zona merah, dimonta segera mencari lokasi pengganti.

”Melalui sosialisasi, harapannya PKL menaati zona marah larangan berjualan. Memahami apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Sehingga ke depan PKL di Klaten lebih tertata. Jadi tidak bisa serta-merta berjualan begitu saja,” urai Bambang.

Ada sekitar 2.100 PKL se-Kabupaten Klaten yang akan ditata tahun ini. Mendorong terbentuknya paguyuban di masing-masing wilayah. Memudahkan pemkab dalam penataan dan pembinaan. Bagi PKL baru yang hendak berjualan, wajib terdaftar di paguyuban tersebut.

Selain zona merah, ada zona kuning dan hijau. Zona kuning mengatur waktu dan tempat PKL  berjualan sesuai ketentuan Disdagkop dan UKM. Yakni pukul 15.00-05.00 WIB. Zona ini sudah terbentuk, terutama para PKL yang berjualan di atas trotoar di sepanjang jalan utama.

Sementara zona hijau, PKL diperkenankan berjualan 24 jam penuh. Salah satunya berada di Pasar Buah Sungkur. Kendati demikian, Bambang menegaskan kawasan itu dilarang digunakan untuk tempat tinggal.

Santoso, 50, PKL warga, Desa Merbung, Kecamatan Klaten Selatan mengaku berjualan di lahan milik perorangan. Lokasinya tepat di tepi jalan kabupaten. ”Tadi sepakati membentuk paguyuban dulu. Difasilitasi kecamatan. Harapannya nanti bisa difasilitasi, terutama pembinaan yang dilakukan Disdagkop dan UKM,” ujar pedagang mie ayam ini. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia