Jumat, 26 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Warga Ubah Sampah  Plastik Jadi Bahan Bangunan Ramah Lingkungan 

27 Maret 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

DILEBUR: Pengolahan sampah plastik jadi bahan bangunan di Desa Doplang, Kecamatan Teras, kemarin (24/3).

DILEBUR: Pengolahan sampah plastik jadi bahan bangunan di Desa Doplang, Kecamatan Teras, kemarin (24/3). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Sampah tidak selalu membawa masalah, tapi ada juga yang membawa berkah. Seperti kreativitas yang dilakukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Doplang, Kecamatan Teras ini. Tidak hanya diolah menjadi aneka kerajinan, sampah plastik ini bahkan digunakan untuk bahan bangunan ramah lingkungan.

TRI WIDODO, Boyolali

SAMPAH plastik menjadi masalah serius ke depan. Karena itu perlu solusi untuk menekan agar sampah plastik ini tidak semakin mencemari lingkungan. Adalah Saryono, pria yang diamanahi menjadi ketua pengelola BUMDes Bareng Nyawiji Desa Doplang memiliki ide tidak bisa. 

Sampah-sampah plastik yang sudah tak bisa diolah ini dia ubah menjadi batako, bata cantik dan paving. Bahan bangunan itu dinilai lebih ramah lingkungan, sebab dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan tidak menyisakan limbah sama sekali seperti bahan bangunan sebelumnya.

“Selama ini kan sampah plastik jarang ada orang yang melirik. Bahkan pemulung saja, hanya memulung sampah plastik yang keras untuk dilebur kembali,” ujar Saryono.

Dari itulah, dia berkomitmen untuk memanfaatkan sampah tersebut demi mengurangi pencemaran lingkungan. “Plastik kresek tak bisa diurai oleh bakteri di dalam tanah. Makanya ini kami olah menjadi bahan bangunan,” katanya.

Selain batu bata cantik sebagai pengganti batu candi alam, sampah plastik ini juga bisa diolah menjadi paving. Bahkan, pihaknya memberikan garansi jika paving atau batu bata cantik dari bahan plastik itu tidak mudah pecah. Karena memang seluruh produk bahan bangunan yang diproduksinya itu bisa diproduksi kembali.

Untuk cara pembuatan batako dari sampah ini sangat sederhana. Sebelumnya, sampah dibakar sehingga menjadi cair. Lalu cairan plastik dimasukkan ke dalam mesin cetak pres manual dan dibiarkan beberapa saat. Kemudian, mesin press dimasukkan ke dalam kolam berisi air agar cairan cepat mengeras.

“Lalu batako dikeluarkan dari mesin cetak dan dibersihkan,” terangnya.

Hasilnya, sebuah batako berwarna hitam mengkilap dan tahan pecah. Saat ini, pihaknya mengaku sedang menyelesaikan pesanan 10 ribu paving. Dalam sehari, BUMDes mampu memproduksi paving sekitar 110 buah yang digarap dua orang. “Untuk satu buah paving dibutuhkan sampah plastik 3 kg,” ujarnya.

Di samping pengolahan sampah, pihaknya juga membuat taman bermain. Taman dilengkapi dengan aneka tanaman bunga. Tanaman itu dipupuk dengan menggunakan sampah organik yang dikumpulkan dari warga Desa Doplang.

Saryono menyebut lokasi pengolahan sampah yang dikelola BUMDes Bareng Nyawiji saat ini terus menjadi jujukan masyarakat untuk belajar tentang pengolahan sampah. “Bahkan, tahun ini, kami juga mendapat penghargaan sebagai juara pertama lomba inovasi sampah menjadi bahan bangunan. Inovasi kami adalah batako dari bahan limbah kertas,” tutur Saryono. (*/bun)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia