alexametrics
Minggu, 16 Aug 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan
Taklim

Keutamaan Menahan Amarah

29 Maret 2019, 21: 49: 13 WIB | editor : Perdana

H. Priyono, Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan

H. Priyono, Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan

Share this      

Oleh: H. Priyono

Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan, Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS.

Akhir-akhir ini semakin marak kejadian fatal yang berujung pada tindak pembunuhan. Salah satu penyebabnya karena ketidakmampuan mengendalikan amarah. 

Seorang dosen salah satu universitas di Makasar pada Kamis (21/3) malam tega mencekik staf administrasi kampus tersebut hingga tewas. Perkaranya sepele, dia tersinggung dan marah terhadap korban yang mencampuri urusan pribadi pelaku. Beberapa hari sebelumnya, di Bengkulu pada Selasa (5/3) juga terjadi peristiwa sadis di mana seorang suami tega membunuh istrinya yang sedang hamil tua hanya gara-gara marah kepada istrinya karena ia tidak diperbolehkan melihat handphone istrinya. 

Amarah memang bara yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia sehingga dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan kehilangan kendali atas dirinya. Ketika seseorang terbakar amarah, ia menjadi gelap mata sehingga dia bisa mengucapkan perkataan atau melakukan tindakan yang berakibat buruk bahkan fatal bagi diri dan orang di sekitarnya. 

Meski demikian, marah sebenarnya merupakan salah satu sifat dasar manusia sehingga setiap orang pasti pernah merasakannya. Marah itu sesuatu yang wajar karena merupakan suatu respons terhadap kondisi ketidaknyamanan yang terjadi. Namun sering kali marah bisa menjadi kebiasaan buruk. Emosi seseorang yang sedang marah sedang tidak stabil sehingga orang dapat melakukan apa saja di luar kendali diri dan pikirannya, sehingga dapat berbuat nekat. Bahkan melakukan perbuatan yang dilarang oleh undang-undang maupun ajaran agama.

Demikian bahayanya marah ini sehingga Rasulullah memberi wasiat yang diulang-ulang kepada sahabat bernama Jariyah bin Qudamah r.a. Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW: “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi SAW bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR Bukhari).

Sebuah wasiat yang singkat namun penuh makna, yaitu: “jangan marah”. Rasulullah bahkan mengulang wasiatnya ini hingga tiga kali berturut-turut yang menunjukkan bahwa marah adalah sesuatu yang harus dihindari karena ia dapat menjadi awal berbagai kejahatan.

Kemampuan menahan amarah juga merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa. Firman Allah SWT dalam QS Ali Imron ayat 134 yang artinya: “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ayat di atas menggambarkan keutamaan menahan amarah yang merupakan salah satu sifat orang bertakwa, yaitu jika mereka disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melampiaskan kemarahan mereka, akan tetapi berusaha menahan kemarahan dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka, bahkan kita diperintah untuk memaafkan. 

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita harus selalu berlatih menahan amarah. Jika suatu hari kita dalam kondisi sedang marah, kita harus segera menenangkan diri agar tidak terjadi hal-hal yang fatal. Menahan amarah berarti menahan diri agar tidak berkepanjangan atau terlarut dalam rasa tidak suka atau kesal.

Rasulullah SAW mengajarkan kita agar saat marah, hendaklah menahan diri, yaitu menahan seluruh organ tubuh, termasuk menahan mulut untuk berbicara, menahan tangan dan kaki untuk berbuat sesuatu. Diri kita yang harus kita tahan sekuat tenaga agar jangan sampai organ tubuh kita meluapkan kemarahan. 

Jangan sampai mulut kita ikut meluapkan marah kita, sehingga terjadi kekerasan verbal, pelecehan atau pun penghinaan. Juga jangan sampai tangan dan kaki kita ikut meluapkan amarah kita sehingga terjadi pemukulan, penendangan yang dapat menyebabkan kejadian fatal seperti pembunuhan yang diuraikan di awal tulisan ini.

Jika kita berhasil menahan amarah, berarti kita menjadi orang yang kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR Bukhori dan Muslim). 

Dan bahkan Rasulullah bersabda bahwa seusai perang, Rasul mengatakan, kita akan perang yang lebih besar dibanding yang sekarang yaitu perang melawan hawa nafsu termasuk marah tentunya yang datang dari dalam diri kita sendiri.

Inilah kekuatan sejati, yaitu kemampuan menahan diri saat marah. Karena, barangsiapa yang mampu menahan dirinya ketika marah maka itu berarti dia telah mampu mengalahkan musuhnya yang paling kuat dan paling berbahaya, yaitu hawa nafsunya. Mari selalu berlatih untuk menahan diri saat marah. Marah itu tidak ada untungnya dan akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka di saat marah diamlah.

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia