Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Inovasi Pengenyal Adonan Pengganti Bleng untuk Kerupuk Gendar

30 Maret 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Inovasi Pengenyal Adonan Pengganti Bleng untuk Kerupuk Gendar

Selama ini, pembuatan kerupuk gendar tidak bisa dipisahkan dari bleng. Campuran garam mineral dengan konsentrasi tinggi. Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks. Namun kini kerupuk gendar tidak perlu bleng lagi. Cukup dengan kulit jeruk pamelo atau bali merah, bleng dapat diganti sebagai pengenyal adonan. Seperti apa inovasinya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo

BELUM banyak yang sadar kalau pembuatan kerupuk gendar dengan bleng memiliki efek tidak baik bagi kesehatan dalam jangka panjang. Melihat realitas tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini membuat inovasi pengenyal adonan dari kulit jeruk pamelo sebagai pengganti penggunaan bleng dalam pembuatan kerupuk gendar. Mereka adalah Dwi Wahyuningrum (D3 Teknologi Hasil Pertanian 2017), Irfina Widya Istiqomah (Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian 2017), dan Arifah Eviyanti (D3 Agribisnis). 

Ketiganya membuat kulit jeruk Pamelo sebagai pengenyal dengan cara mengambil kulit jeruk bagian dalam yang bertekstur seperti gabus (albedo). Lalu dikeringkan dan diekstrak dengan menggunakan pelarut Asam Sitrat sebanyak lima persen. Kemudian dicuci dengan Etanol 70 persen dan 96 persen.

“Dalam kulit jeruk pamelo bagian dalam terdapat senyawa pektin yang dapat digunakan sebagai pengenyal kerupuk. Pektin adalah senyawa karbohidrat kompleks yang terdapat pada dinding sel tumbuhan yang sifatnya dapat menyerap air sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengental,” beber Dwi kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Pembuatan pektin kulit jeruk pamelo ini ditujukan sebagai pengganti pemakaian bleng di industri kerupuk. Bleng biasanya digunakan untuk mengembangkan dan mengenyalkan adonan. Bahan kimia ini sebenarnya tidak boleh dikonsumsi dalam waktu panjang dan dengan dosis berlebihan karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal hingga kematian.

Karena itu, Dwi bersama rekan-rekannya berinisiatif untuk memanfaatkan potensi jeruk pamelo yang belum termanfaatkan. Mereka mendapatkan jeruk pamelo atau bali merah dari Magetan, yang memang sudah dikenal sebagai produk unggulan kota tersebut.

“Penggunaan pektin kulit jeruk pamelo selain lebih aman, biaya yang dikeluarkan bisa bersaing dengan produk kerupuk dengan bleng. Kalau dihitung, 80 gram kerupuk siap makan. Harganya Rp 3.400. Tapi kalau kerupuk gamalo dengan berat yang sama, harganya Rp 3.000,” ungkapnya.

Penentuan harga itu tentu sudah dengan perhitungan keuntungannya bagi produsen. Karena pengenyalnya berasal dari pemanfaatan limbah yang belum termanfaatkan, itu dapat menekan biaya produksi.

Dwi menambahkan kerupuk yang menggunakan kulit jeruk pamelo bisa bertahan sampai dua bulan dengan penyimpan yang baik. Tekstur yang didapat pun sama dengan kerupuk gendar biasanya.

“Kami berharap inovasi mereka dapat diteruskan ke ranah yang lebih luas dan bisa bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Magetan untuk mendukung dan membantu mempromosikan penemuan ini kepada masyarakat. Kami berencana untuk bekerjasama dengan kelompok usaha seperti UMKM di Magetan,” jelasnya.

Atas inovasi mereka, Dwi dan timnya mengaku pengenyal dari kulit jeruk pamelo ini baru sebatas dilombakan di kompetisi inovasi tingkat nasional.  Mereka menyisihkan 84 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga Jogjakarta. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia