Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Workshop Guru Menulis, Bikin Artikel Jangan Takut Salah

31 Maret 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

TAMBAH WAWASAN: Pelatihan Penulisan Artikel Populer yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Solo di aula SMKN 6 Surakarta.

TAMBAH WAWASAN: Pelatihan Penulisan Artikel Populer yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Solo di aula SMKN 6 Surakarta. (ANDI ARIS/RADAR SOLO)

SOLO – Guru terus didorong untuk gemar menulis artikel. Sebab, kebiasaan tersebut dapat memacu kreativitas dan memunculkan ide segar mengembangkan cara pembelajaran di kelas lebih berkualitas.

Namun, untuk rutin menulis, para pendidik sering terbentur dengan kesibukan tugas mengajar. Nah, pemimpin redaksi Jawa Pos Radar Solo Muhamad Shidiq punya solusi tantangan tersebut. Kuncinya adalah luruskan niat.

"Pastikan niat sudah bulat untuk memulai menulis. Kemudian pilih cara yang termudah untuk menulis. Bisa dengan gadget atau di depan laptop. Terakhir, luangkan waktu dalam sehari untuk menuangkan unek-unek yang ingin ditulis," beber Shidiq kepada peserta Pelatihan Penulisan Artikel Populer yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Solo di aula SMKN 6 Surakarta kemarin.

Menurutnya, ada beragam pola penulisan yang bisa disusun dalam sebuah artikel. Antara lain, dalam bentuk kronologi, perbandingan, problem solving, atau sebuah pemikiran.

"Ide atau gagasan yang dituangkan dalam sebuah artikel populer berbeda dengan karya ilmiah. Artikel lebih bebas dikembangkan sesuai dengan keinginan penulis," sambungnya.

Kepala SMKN 6 Ties Setyaningsih pun turut berbagi pengalaman dalam menulis artikel populer. Beberapa kali hasil karyanya dimuat di media cetak. Menurutnya, pencapaian tersebut tidak lepas dari niat dan keberanian.

"Kuncinya tidak takut salah. Sifat ini harus diterapkan saat kita mulai menulis. Semua guru pasti punya hobi dan bakat untuk menulis. Ditambah lagi ada aturan yang memaksa para guru mau tidak mau untuk harus sering menulis artikel," tegasnya.

Yakni, lanjut Ties, sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat guru. Mereka harus berkontribusi dalam gagasan yang dituangkan dalam sebuah artikel. Untuk itu, Ties mengimbau agar para guru mulai menumbuhkan budaya gemar menulis.

"Ini bisa dimulai dengan membuat blog. Karena di sana tidak ada pihak yang mengkritik tulisan kita. Kalau pun ada yang mengkritik, jangan cepat sakit hati. Justru kritikan itu yang membangun kita," tandas dia.

Tulisan juga bisa dipublikasikan di media sosial. Ambil contoh, Facebook. Di sana, semua orang bisa membaca tulisan sekaligus memberi kritik dan saran. Jika sudah yakin, kirimkan tulisan ke media cetak untuk di-publish ke khalayak umum.

"Tema yang ditulis bisa dari isu-isu yang sedang up-to-date saat ini. Atau bisa juga isu yang sedang meresahkan penulis. Ditulis biasa saja, seperti menulis diary. Tidak apa menulis satu paragraf dulu. Sedikit-sedikit ditambah. Jadi makin banyak. Intinya, jangan karena ingin naik pangkat. Kalau sudah naik pangkat, ya sudah. Tulisan dibuat bukan untuk menunjukkan kualitas dan kompetensi," urainya.

Ties berpesan kepada 88 peserta pelatihan untuk tetap gigih dan tidak mudah menyerah. Karena memang tidak selalu artikel yang dikirim dapat diterima dan dimuat di media cetak. "Tapi kalau sudah mulai dimuat, pasti akan termotivasi untuk menulis lagi. Inilah pentingnya berani mengirim artikel ke koran," terangnya. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia