Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Jelang Pemilu, Cash Flow Bank Indonesia Stabil

03 April 2019, 08: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Jelang Pemilu, Cash Flow Bank Indonesia Stabil

SOLO – Pemilihan Umum (Pemilu), 17 April mendatang disambut suka cita oleh masyarakat. Termasuk Bank Indonesia (BI). Kendati demikian, BI tidak mengadakan estimasi kebutuhan uang (EKU) khusus jelang pemilu. Kendati di tahun politik, pasti berdampak pada kenaikan tingkat konsumsi masyarakat. 

Seperti disampaikan Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) Kantor Perwakilan BI Surakarta, Bakti Artanta. Dia menjelaskan, semua kebijakan masih sama. Sesuai dengan susunan setiap tahunnya. Diprediksi, tidak terjadi kenaikan out flow (aliran dana keluar) saat pemilu. Dibandingkan dengan momentum Lebaran.

”Out flow masih normal. Data terakhir tercatat out flow Februari di kisaran Rp 800 miliar. Pada tahun pokitik 2014 lalu, juga tidak terjadi kenaikan out flow. Sebagai perbandingan, out flow Januari 2014 Rp 355 miliar, Februari Rp 460 miliar, dan Maret Rp 552 miliar,” kata Bakti kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (2/4).

Pada Juni 2014, bertepatan dengan momen pemilu, out flow mencapai Rp 753 miliar. Namun hal ini bersamaan bulan puasa Ramadan. Sehingga konsumsi masyarakat tercatat meningkat. Jika dihitung secara umum, kecenderungan out flow ada kenaikan 10 persen per tahun.

Namun Bakti tetap memastikan ketersediaan dana mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Awal April ini, KPwBI Surakarta akan berkoordinasi dengan perbankan. Masing-masing perbankan wajib melaporkan data EKU. Sehingga akan muncul Data EKU yang mendekati final.

Sementara itu, terkait peredaran uang palsu, KPwBI menampik terjadi peningkatan karena momentum pemilu. Temuan uang palsu rata-rata per bulan 350-500 lembar. Berdasarkan data, sepanjang 2018 ditemukan 5.185 lembar uang palsu. Meningkat 6,73 persen jika dibandingkan 2017. Sedangkan pada Januari-Februari 2019, ditemukan 768 lembar uang palsu.

”Pecahan uang palsu paling banyak Rp 50 ribu dan 100 ribu. Namun sekali lagi, adanya uang palsu yang meningkat ini, bukan dipicu tahun politik,” tandas Bakti. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia