Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

OJK Dorong Inovasi Generasi Milenial

03 April 2019, 13: 50: 59 WIB | editor : Perdana

BERPIKIRAN MAJU: Seminar yang digelar OJK di Swiss-Belinn Saripetojo, Selasa (2/4). 

BERPIKIRAN MAJU: Seminar yang digelar OJK di Swiss-Belinn Saripetojo, Selasa (2/4).  (SEPTINA FADIA P/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Generasi milenial, khususnya mahasiswa diharapkan dapat berinovasi. Meningkatkan kreativitas dan didorong membuat bisnis start-up. Serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Hal ini disampaikan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso. Pada seminar nasional OJK dan Universitas Sebelas Maret (UNS) bertajuk Tantangan dan Peluang Bisnis bagi Generasi Milenial Era Revolusi Industri 4.0, di Swiss-Belinn Saripetojo, Selasa (2/4).

Dia menyebut pemerintah telah mencanangkan gerakan nasional 1.000 start-up digital. Membutuhkan pemikiran kritis dan inovatif dari generasi muda, khususnya mahasiswa. ”Perkembangan teknologi tidak sebatas sektor riil. Namun juga menyentuh sektor jasa keuangan. Bagi generasi milenial, perkembangan teknologi tersebut justru harus dipandang sebagai peluang berwirausaha,” kata Wimboh.

Indonesia segera menikmati masa bonus demografi. Menggugah generasi milenial untuk memanfaatkan modal tersebut. Agar berperan dalam mendorong perekonomian dan mengentaskan kemiskinan.

”Berpikir kreatif. Cari mana saja aspek bisnis yang menjadi masalah. Melalui bantuan teknologi informasi. Dengan demikian generasi muda tidak hanya mengurangi pengangguran. Tetapi bisa menciptakan lapangan kerja,” bebernya.

Plh OJK Surakarta, Triyoga Laksito menambahkan, penggunaan teknologi mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan penjualannya. ”Ini sebenarnya keahlian generasi muda untuk meng-create produk yang menarik dengan teknologi. Kalau anak muda bisa berkreasi, itu jadi peluang besar,” sambungnya.

Pakar ekonomi sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Tengah (UMKT), Bambang Setiaji menyebut, hanya 14 persen eksekutif muda yang siap menghadapi revolusi industri 4.0. Mayoritas masih gamang. Menurutnya, ada dua pendapat tentang ekonomi di era revolusi industri 4.0 ini.

”Mayoritas eksekutif berpendapat, akan terjadi pemerataan ekonomi. Hadirnya bisnis online, imbas dari era ini. Kota bisa berbisnis tanpa aset. Modalnya tidak perlu besar sudah bisa bisnis. Eksekutif lainnya berpendapat akan terjadi ketimpangan. Karena bisnis online menyerap uang dari daerah ke kota. Larinya ke luar negeri karena sudah dibeli negera lain,” ucapnya. (sct/aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia