Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Sulitnya Lindungi Benda Cagar Budaya

03 April 2019, 16: 25: 59 WIB | editor : Perdana

BERSEJARAH: Warga Dusun Krapyak, Desa Dompyongan, Jogonalan menunjukan temuan batuan candi.

BERSEJARAH: Warga Dusun Krapyak, Desa Dompyongan, Jogonalan menunjukan temuan batuan candi. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menghadapi kendala pelik dalam upaya melindungi benda cagar budaya (BCB) yang tersebar di sejumlah wilayah. Hal itu terungkap dalam penyampaian jawaban bupati. Atas pandangan umum anggota DPRD di gedung paripurna yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, Selasa (2/4).

Jaka mengungkapkan, ada beberapa kendala dalam melindungi BCB. Seperti sebaran situs yang ada di seluruh wilayah Klaten. Membutuhkan perhatian besar. Baik pembiayaan maupun personel yang membidangi. ”Kita juga belum memiliki regulasi dalam bentuk peraturan daerah atau peraturan bupati dalam rangka melindungi cagar budaya yang ada di Klaten,” ucap Jaka.

Berdasarkan klasifikasi dan inventarisasi cagar budaya di Klaten, terdapat 93 situs. Terdiri dari 12 cagar budaya, 69 situs sejarah, dan 12 benda bernilai sejarah. Tersebar di sejumlah kecamatan.

Sebagai bentuk komitmen pemkab dalam melindungi cagar BCB, rancanagan peraturan daerah telah memasuki tahapan pembahasan di masing-masing panitia khusus (Pansus). Di sisi lain, pemkab juga tengah menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Sebagai tim ahli yang bertugas mengidentifikasi cagar budaya.

”Membentuk tim ahli cagar budaya tingkat kabupaten, dibutuhkan lima orang personel. Masing-masing memiliki sertifikasi sebagai ahli cagar budaya. Dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Akan kami daftarkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dalam APBD 2020,” terang Jaka.

Berbagai upaya telah dilakukan pemkab dalam melindungi cagar budaya. Mulai melakukan kerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Termasuk melibatkan komunitas pecinta cagar budaya dalam melakukan kunjungan bersama ke tempat ditemukannya situs.

”Termasuk melakukan verifikasi dan inventarisasi terhadap situs-situs termuan tersebut. Ditambah dengan mengadakan pelatihan jurnalistikdan lomba karya tulis ilmiah tentang cagar budaya. Ini untuk memotvasi para generasi muda lebih mencintai cagar budaya,” urai Jaka.

Sebelumnya, dalam pandangan fraksi, mempertanyakan komitmen pemkab dalam melindungi BCBC. Salah satunya datang dari fraksi PKS, Slamet Riyadi. ”Cagar budaya harus dilindungi. Jangan sampai cagar budaya jatuh ke tangan swasta. Contohnya pabrik karung goni di Delanggu. Kini dimiliki swasta. Seharusnya pemkab memiliki andil untuk melindunginya,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia