Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Rawan Gesekan, Polisi Pertebal Pengamanan Posko Capres

04 April 2019, 11: 48: 03 WIB | editor : Perdana

UJUNG TOMBAK: Simulasi pengamanan TPS di halaman Mapolresta Surakarta kemarin (3/4).

UJUNG TOMBAK: Simulasi pengamanan TPS di halaman Mapolresta Surakarta kemarin (3/4). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Polresta Surakarta memetakan kawasan rawan gesekan antarpendukung capres-cawapres. Titik rawan tersebut tersebar di seluruh wilayah Kota Bengawan.

“Terutama di titik-titik posko masing-masing paslon (pasangan calon, Red). Ketika ada kegiatan oleh pendukung lain dan lewat di depan posko, bisa saja terjadi saling ejek,” jelas Wakapolresta Surakarta Andy Rifai kemarin (3/4).

Untuk mencegah hal tersebut, pengamanan di kawasan posko capres-cawapres dipertebal melibatkan personel Polda Jateng. Penebalan keamanan juga dilakukan di tempat ibadah.

Upaya lainnya, Polresta Surakarta berkoordinasi dengan masing-masing tim sukses agar dapat mengontrol anggotanya. Seperti tidak melakukan konvoi yang menggangu keamanan dan ketertiban masyarakat, serta tidak melakukan provokasi.

Di lain sisi, Polresta Surakarta menyita lebih dari 120 unit sepeda motor berknalpot brong untuk konvoi. Pemilik kendaraan diizinkan mengambil kendaraan dengan syarat melengkapinya dengan perlengkapan standar dan membuat surat pernyataan bermaterai.

Kasat Sabhara Polresta Surakarta Kompol Busroni menjelaskan, pada Minggu (31/3), call center Polresta Surakarta menerima 1.200 laporan warga yang mengeluhkan konvoi kendaraan. “Kami langsung lakukan penindakan. Mayoritas tertangkap di wilayah Solo Selatan,” kata dia.

Sebanyak 30 unit motor yang disita telah diambil pemiliknya dengan mengganti knalpot dan kelengkapan kendaraan sesuai standar. Termasuk surat pernyataan mengetahui ketua RT dan RW lengkap dengan stempel.

”Apabila surat pernyataan tidak lengkap seperti tidak ada stempel dari RT dan RW, tidak akan diizinkan mengambil sepeda motor,” tegas dia. Peserta konvoi, lanjut Busroni, 40 persennya merupakan pelajar SMP yang belum memiliki hak pilih dalam Pemilu 2019. (atn/wa

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia