Sabtu, 20 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Wheelchair Basketball Terganjal Dana Negara

04 April 2019, 13: 45: 59 WIB | editor : Perdana

BIMBANG: Tim wheelchair basketball saat tengah berlatih di Sritex Arena, tahun lalu.

BIMBANG: Tim wheelchair basketball saat tengah berlatih di Sritex Arena, tahun lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Harapan besar tim bola basket kursi roda (wheelchair basketball) Indonesia untuk terjun di ajang Asean Para Games (APG) 2020 di Filipina, ternyata pupus. Tim yang terbentuk dibawah payung National Paralympic Committee (NPC) tersebut, dipastikan absen di ajang multievent olahraga disabilitas terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

”Kemarin katanya pak Menpora (Imam Nahrawi) bilang akan memilih kontingen Indonesia (di Asean para Games) fokus di kelas perorangan. Banyak kelas beregu, termasuk cabor kami yang tak bisa ikut serta. Alasannya karena efisiensi dana. Kalau perorangan, katanya dananya sedikit, peluang dapat emasnya bisa lebih banyak. Mendengar itu, kita hanya bisa pasrah,”  terang Pelatih Tim Wheelchair Basketball Indonesia, Fajar Brilianto kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Cabor Wheelchair Basketball sendiri baru terbentuk tahun lalu. Itupun dimulai lantaran Indonesia jadi tuan rumah Asian Para Games di Jakarta. Dari sisi hasil, ternyata memang belum bisa berbicara banyak, karena gagal mendulang medali.

”Kalau kemarin gagal dapat medali, dan tak bisa menang, tentu wajar. Yang bisa basket awalnya hanya Donald Santoso, sisanya semua dari nol. Ditambah kita harus melawan negara luar yang sudah lama mengembangkan olahraga ini. Bisa dibilang kita tengah berjuang membangun dan mengembangkan olahraga ini, jadi proses untuk jadi juara masih panjang langkahnya,” ucapnya. 

Dilain sisi, pihaknya juga mengakui tak mudah untuk mengembangkan olahraga ini di Indonesia. Untuk  menggelar cabor ini di ajang Pekan Paralympik Nasional (Peparnas) di Papua 2020 mendatang.

”Untuk bermain olehraga ini saja, kursi rodanya khusus. Bisa sih memaksakan menggunakan kursi roda rakitan yang tak berstandar, tapi tetap dananya cukup besar. Terlebih tak mudah untuk mencari pemain basket kursi roda, belum tentu setiap daerah bisa membentuk timnya. Inilah yang jadi tantangan bersama untuk mengembangkan olahraga ini,” tuturnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia