Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Dokter Penyebar Ujaran Kebencian di Wonogiri Ditahan 30 Hari

05 April 2019, 20: 43: 17 WIB | editor : Perdana

Dokter Penyebar Ujaran Kebencian di Wonogiri Ditahan 30 Hari

WONOGIRI – Dokter di Wonogiri berinisial M yang tersandung kasus ujaran kebencian berbau suku, agama, ras, antargolongan (SARA) ditahan selama 30 hari. 

Ketua Pengadilan Negeri Wonogiri Muhammad Istiadi melalui Humas Pengadilan Negeri Wonogiri Lingga Setiawan mengatakan, penahanan terdakwa M merupakan ketetapan hakim. Penahanan ditetapkan dalam persidangan Selasa (2/4) lalu. 

”Alasan penahanan yakni Pasal 21 dan Pasal 26 KUHAP dan perkembangan persidangan. Alasan perkembangan persidangan yang seperti apa, itu tidak bisa disampaikan. Karena merupakan hak subyektif dari hakim,” kata Lingga Jumat (5/4). 

Hingga dilakukan penahanan terhadap M, setidaknya sudah 10 kali persidangan digelar. Serta ada 11 saksi yang diperiksa pengadilan. ”Agenda lagi Selasa pekan depan dengan meminta keterangan ahli IT,” ujar Lingga. 

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri Dodi Budi Kelana melalui Kasi Pidum Bagyo Mulyono yang juga berperan sebagai Penuntut Umum dalam perkara itu mengatakan, M didakwa dengan pasal 45 A ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ancaman hukumannya, pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar. 

Terpisah, Sugiyono, penasihat hukum terdakwa mengatakan, pihaknya akan mengajukan penanguhan penahanan. Salah satu alasannya karena M dalam profesinya sebagai dokter banyak dibutuhkan masyarakat. Ia juga membuka pengobatan gratis.

Diberitakan sebelumnya, seorang dokter berinisial M menyebarkan konten berbau SARA dengan mencatut salah satu partai di grup media sosial Whatsapp (WA) para dokter di Wonogiri. Konten berupa gambar disertai kalimat provokatif. Yakni, PDIP tidak butuh suara umat Islam yang seolah-olah diucapkan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri. Menurut Sekretaris DPC PDIP Setyo Sukarno, kalimat tersebut bisa membentuk interpretasi publik bahwa PDIP merupakan partai yang anti-Islam. (kwl/ria)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia