Kamis, 18 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Travelling
Melihat Fenomena Situs Pengging (1)

Favorit Peziarah Para Pejabat

06 April 2019, 13: 51: 34 WIB | editor : Perdana

Favorit Peziarah Para Pejabat

KEBERADAAN Keberadaan Situs Pengging di Kecamatan Banyudono, Boyolali menyimpan bukti sejarah panjang keterkaitan antara Kerajaan Majapahit di era kepemimpinan Raja Brawijaya V dengan berdirinya tonggak Kerajaan Pajang hingga Mataram. Seperti apa jejaknya dan fenomena saat ini?

Aroma ratus tercium tajam ketika Jawa Pos Radar Solo mengunjungi sebuah makam keramat di Dusun Malangan, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.  Malam itu, situs pemakaman yang dikenal sebagai makam Sri Makurung Handayaningrat atau lebih dikenal dengan sebutan Pengging Sepuh itu memang sedang ramai-ramainya dikunjungi banyak peziarah. Konon, Kamis malam itu merupakan malam pasaran yang tepat untuk berziarah di makam tersebut. 

“Kalau di sini ramainya malam Jumat Pahing dan Selasa Kliwon. Di luar hari itu ya ada yang datang (ziarah), tapi memang tidak seramai dua malam itu,” jelas juru kunci makam, Narto Muji di sela menjamu peziarah malam itu.

Koran ini pun semakin penasaran kenapa situs makam Pengging Sepuh ini jadi salah satu situs yang paling ramai dikunjungi dari situs makam lainnya yang ada di kawasan Pengging. Juru kunci makam kemudian mengarahkan koran ini untuk menuju salah satu bangsal yang ada di kompleks pemakaman. Di sana, sejumlah catatan pengelolaan situs hingga pohon keluarga dari garis keturunan Sri Makurung Handayaningrat terpampang jelas di salah satu dinding bangsal.

“Jadi Sri Makurung Handayaningrat (Pengging Sepuh) ini masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan kerajaan Majapahit dan Mataram,” kata Narto Muji.

Hubungan kekeluargaan dengan Kerajaan Majapahit lantaran Sri Makurung Handayaningrat menikahi putri Brawijaya V. Hasil pernikahan itu melahirkan tiga orang putera yang diberinama Kebo Kanigoro, Kebo Kenongo, dan Kebo Amiluhur. Yang beberapa di antaranya dimakamkan tidak jauh dari makam Pengging Sepuh tersebut.  

“Jadi salah satu putra dari Sri Makurung Handayaningrat bernama Kebo Kenongo itu memiliki anak dikenal dengan nama Joko Tingkir yang di masa mendatang merupakan sosok penerus Kerajaan Demak dan cikal bakal lahirnya Trah Mataram,” terang Narto Muji.

Obrolan sesaat itu menguatkan keyakinan koran ini bahwa sosok yang disemayamkan di situs pemakaman itu merupakan tokoh besar yang layak dikenang oleh generasi muda. Maka tak heran pemakaman ini selalu ramai dikunjungi berbagai kalangan masyarakat. 

Makin bertambah malam, banyak peziarah yang berdatangan. Tibalah waktu di mana juru kunci harus mengambil alih ritual berdoa di kompleks pemakaman tersebut. Dia lantas menyerahkan salah seorang warga yang kerap membantunya mengurusi makam untuk menemani koran ini.

 “Peziarah yang datang ke makam ini ada dari warga sekitar, namun juga banyak yang datang dari jauh. Bahkan tokoh-tokoh penting, termasuk pejabat pemerintahan sesekali sempat mampir. Saya ingat dulu ada pejabat sebelum maju presiden juga datang ke sini,” timpal Suripto, yang setiap hari bertugas membersihkan situs pemakaman Pengging Sepuh tersebut.

Di lihat sekilas, kompleks pemakamam yang berada di tengah permukiman warga itu memang jauh dari akses jalan utama, namun masih saja jadi jujukan para peziarah. Keberadaan satu pohon kepoh ukuran jumbo menjadi penanda di mana situs pemakaman Pengging Sepuh itu berada. 

“Awalnya dulu pemakaman biasa dengan alas batu dan tanah. Pagarnya pun hanya alang-alang dan bambu yang lebat. Nah, pada 1972 baru ada pemugaran dari pemerintah setempat,” jelas Suripto.

Pasca pemugaran itu, situs Pengging Sepuh jadi lebih nyaman untuk berziarah. Seiring berjalannya waktu, ada penambahan fasilitas baru demi kenyamanan para peziarah. Alas di sekitar makam yang dulu tanah dan bebatuan kini sudah dicor semen. Kemudian diganti menjadi alas keramik dalam beberapa tahun terakhir. 

“Dananya ya dari donatur. Termasuk menambah akses parkir ini buat peziarah yang datang dengan kendaraan roda empat,” ujar Suripto.

Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Juru kunci setempat langsung memulai mengawali doa dengan memintakan izin kepada Tuhan agar peziarah bisa menjalankan ritual doa dengan tenang. Tak lama kemudian, para peziarah pun dipersilakan memasuki area pemakaman Pengging Sepuh. Namun karena banyaknya peziarah, koran ini pun harus ikut antre agar bisa merasakan bagaimana suasana berziarah di makam keramat tersebut. 

“Nanti doanya ya sesuai kepercayaan masing-masing. Intinya kan untuk menenangkan diri, jadi apapun caranya tidak masalah,” kata Suripto.

Koran ini pun akhirnya ikut serta dalam satu rombongan keluarga dari Solo yang sesekali mampir menjalankan ritual di makam Pengging Sepuh tersebut. Sejumlah uba rampe seperti kembang setaman dan dupa pun dibawa layaknya seorang anak saat mengunjungi makam orang tuanya. 

“Di sini ada lima makam. Tiga makam paling atas adalah makam Sri Makurung Handayaningrat (Pengging Sepuh), Retno Pambayun (istri Pengging Sepuh/anak Raja Majapahit Brawijaya V), dan Kebo Amiluhur (putra ketiga). Kemudian di sisi timur ada keturunannya juga bernama Endang Retno Widuri dan di sisi paling selatan ada makam Nyai Bendrong (orang kepercayaan Pengging Sepuh),” jelas, Agus Hari, 58, salah satu peziarah yang datang malam itu.

Ia pun mengajak koran ini untuk bersama-sama bersama keluarga besarnya berdoa di situs pemakaman tersebut. Dilihat dari gerakannya, tak ada yang berbeda dengan cara ziarah yang seperti biasanya. Hanya saja di makam ini ada urutan sembahyang dari yang paling tua, yakni Sri Makurung Handayaningrat hingga terakhir makam Nyai Bendrong. 

Soal durasi, tentu saja sesuai keinginan dan kebutuhan masing-masing. Namun kala itu koran ini membutuhkan 30 menit untuk menyelesaikan ziarah di lima makam tersebut. Usai doa, peziarah  diberi kesempatan untuk meneruskan berdoa sesuai keyakinan masing-masing seperti semedi atau menepi (Bahasa Jawa) di sekitar lokasi pemakanam. 

“Kalau mau lanjut sampai pagi atau sampai besok-besok pun boleh. Tapi karena ini di tengah perkampungan, kalau mau menginap lebih dari 24 jam harus izin RT RW setempat,” kata Agus. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia