Kamis, 18 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Travelling
Melihat Fenomena Situs Pengging (1)

Pangeran dari Semanggi

06 April 2019, 13: 55: 25 WIB | editor : Perdana

Pangeran dari Semanggi

MELIHAT banyaknya peziarah yang datang ke makam Pengging Sepuh, koran ini pun makin penasaran soal seberapa besar sosok yang disemayamkan di kompleks pemakaman tersebut. Apakah benar Pengging Sepuh merupakan penyambung garis keturunan antara Kerajaan Majapahit dengan Mataram? 

“Rangkaian panjang peristiwa Pengging hingga munculnya Mataram memang memiliki keterikatan. Itu semua dari garis keturunan maupun kekuasaan yang diteruskan secara turun-temurun,” beber Sejarawan Universitas Sebelas Mater (UNS) Susanto.

Sebelum berbicara lebih jauh, Susanto ingin menjelaskan bagaimana asal muasal kekuasaan Pengging terbentuk. Banyak naskah sejarah menunjukkan bahwa Pengging merupakan satu daerah yang dikuasai oleh seorang tokoh yang lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pengging. Di mana tokoh ini sebelum bergelar Ki Ageng Pengging adalah seorang pangeran yang berkuasa di daerah Semanggi (Semanggi, Pasar Kliwon, Solo) bernama Jaka Sengara. 

“Kala itu, Kerajaan Semanggi itu bagian dari Kerajaan Majapahit. Nah, yang berkuasa di sana adalah Jaka Sengara yang kemudian bergelar Pangeran Handayaningrat atau yang dikenal sebagai Pengging Sepuh,” beber Susanto menguatkan keterangan juru kunci makan Pengging Sepuh.

Seiring berjalannya waktu, kekuasaan Jaka Sengara ini kemudian digeser ke wilayah Pengging setelah membantu Kerajaan Majapahit saat menumpas pemberontakan di Banyuwangi. Di Pengging, Jaka Sengara kemudian mendapat gelar Pangeran Handayaningrat.

Pangeran Handayaningrat itu kemudian bergelar Sri Mangkurat Handayaningrat setelah menikah dengan Putri Retno Pembayun (anak Brawiyaya V) hingga melahirkan tiga orang putra.

“Nah, salah satu dari ketiga putranya ini yang bernama Kebo Kenongo ini kemudian bergelar Ki Ageng Pengging. Kalau orang Jawa sudah paham yang mana Ki Ageng Pengging Sepuh dan Ki Ageng Pengging,” terang Susanto.

Seiring berjalannya waktu, Kebo Kenongo memiliki seorang anak yang diberinama Mas Karebet yang kemudian hari dikenal sebagai Joko Tingkir, lantaran lahir saat pertunjukan wayang karebet (wayang beber) di daerah Butuh.  

Karena ayah Kebo Kenongo memiliki kedekatan dengan Syeh Siti Jenar, maka kehidupan Mas Karebet terancam oleh penguasa pantai utara Kerajaan Demak. Ini semua karena masalah perbedaan kepercayaan saja. Di mana Islam sudah masuk di daerah pesisir utara yang sedikit berbeda dengan daerah kerajaan di pedalaman. 

“Makanya Mas Karebet akhirnya dititipkan di daerah Tingkir (Salatiga) di bawah kekuasaan Ki Ageng Tingkir. Kelangsungan hidup Mas Karebet aman karena diangkat anak oleh Ki Ageng Tingkir yang kala itu masuk dalam kekuasaan Kerajaan Demak. Hingga kemudian hari nama Mas Karebet berganti menjadi Joko Tingkir sampai mengabdi di Kerajaan Demak dan jadi menantu Sultan Trenggono,” kata Susanto.

Joko Tingkir kemudian diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak sebagai bupati Tamping (sebutan untuk daerah luar kerajaan). Dilihat dari letaknya, kekuasaan Joko Tingkir itu berada di suatu wilayah bernama Pajang. Selang beberapa lama, kekuasaan Demak mulai surut, sisa kekuasaan kerajaan Demak akhirnya dipindah ke daerah Pajang dan menjadi Keraton Pajang pada awal abad 16. Kemudian Joko Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya. 

“Hadi Wijaya ini memiliki putra bernama Pangeran Benowo (memegang kekuasaan di daerah Blora dan Bojonegoro). Kemudian diteruskan oleh Sutowijoyo karena dedikasinya dalam mengalahkan rival Hadi Wijaya bernama Arya Penangsang. Maka kekuasaan dipindah ke Kerajaan Mataram di Kutho Gede. Ini cikal bakal Kerajaan Mataram,” jelas Susanto.

Melihat minimnya jejak sejarah dan situs Kerajaan Pengging, apakah perlu adanya upaya rekonstruksi untuk mencari situs-situs bersejarah lainnya di wilayah Pengging?

 “Pengging akhir abad 15 dan awal 16. Jika digali, situs-situs sejarah ini pastinya ada. Karena sifatnya memusat. Simbol-simbol sejarah itu bisa ditelusuri dari tata letak fasilitas penunjang di sekitar kerajaan itu. Nah, kalau di Pengging seperti apa? Ya hanya sebatas itu. Tinggal pemangku wilayah setempat ingin memunculkan seperti apa,” tutur Susanto. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia