Minggu, 25 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Travelling
Melihat Fenomena Situs Pengging (1)

Ritual Kungkum di Kolam Pemandian Raja

06 April 2019, 13: 57: 28 WIB | editor : Perdana

Ritual Kungkum di Kolam Pemandian Raja

ADA ritual khusus bagi para peziarah di area makam Pengging Sepuh. Berendam atau kungkum masih banyak dilakukan pengunjung saat malam-malam tertentu di sejumlah mata air di kawasan tersebut. Salah satu mata air pertama yang dituju adalah Umbul Planangan, mengingat lokasinya hanya perlu ditempuh selama beberapa menit dari Situs Makam Pengging Sepuh. 

Di umbul yang berukuran 6x8 meter tersebut terdapat dua orang pria yang sedang kungkum. Meski cuaca malam itu cukup dingin, mereka terlihat khusyuk berendam di kolam yang gelap gulita tersebut.

 Merasa kesulitan interaksi dengan para pelaku ritual kungkum, koran ini kemudian bergeser ke kolam pemandian yang cukup terkenal, yakni Tirta Marta. Letaknya yang dekat dengan pasar tradisional membuat lokasi itu cukup ramai dikunjungi. Terutama pada malam Jumat Pahing kala itu. 

Bisa dibilang hampir seperti pasar malam, kerumunan pengunjung berjubel tidak karuan di parkiran pemandian raja itu. Padahal waktu sudah lewat tengah malam.  “Saya rutin kungkum di sini sejak 2004. Biasanya bareng-bareng sama teman kerja,” ujar Warsito, 50, warga Teras, Boyolali saat hendak melakukan ritual kungkum di salah satu mata air di kompleks pemandian Tirta Marta dini hari itu.

Di kompleks pemandian raja itu, terdapat tiga kolam mata air. Yang paling depan adalah Umbul Temanten, kemudian di sisi selatan ada Umbul Duda, dan di ujung paling timur ada Umbul Ngabean. Konon, kolam pemandian ini dulunya sering dipakai oleh keluarga Kerajaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, khususnya saat pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939).

“Kalau saya memang lebih sering kungkum di sini karena dulunya merupakan pemandian raja. Saya pikir ada berkah-berkah yang bisa diambil di sini. Makanya dalam sebulan saya bisa tiga sampai empat kali kungkum di sini,” kata Warsito.

Dari ketiga kolam mata air yang ada di kompleks tersebut, Warsito biasa berendam di Umbul Temanten. Sayang pada kunjungan malam itu pengelola sedang menguras kolam air tersebut. Warsito pun lantas mengajak koran ini untuk menengok dua kolam lainnya. 

Umbul Duda jadi jujukan pertama. Ada suasana berbeda dengan Umbul Temanten. Jika di Umbul Temanten kolam pemandian untuk pria dan perempuan dipisah, maka di Umbul Duda pelaku tirakat kungkum berbaur jadi satu di kolam ukuran 15x20 meteran tersebut.

Suasana gelap menjadi memandangan lumrah di kolam itu. Suara gemericik air dari gerak pelaku tirakat memenuhi nuansa sakral di kolam pemandian itu yang kala itu penuh dengan wewangian ratus yang dipasang di sudut-sudut kolam. Adapun cahaya yang memancar berasal dari satu kamar ganti yang ada di ujung kolam. 

“Kalau kungkum ya seperti ini. Tidak bicara satu sama lain. Paling kalau ada suara itu orang yang baca doa. Jadi semua kusyuk. Pokoke wes ra nggagas kiwo tengene,” jelas Warsito.

Dari Umbul Duda, Warsito kemudian mengantar koran ini ke kolam mata air yang letaknya di ujung paling timur kompleks Tirta Marta. Di sana, kolam pemandian ini tampak lebih megah dari dua kolam lainnya. Bentuk bangunan yang lebih megah dengan arsitektur bangunan ala keraton menyambut langkah koran ini kala memasuki kolam pemandian. 

Di ruang utama, terdapat sejumlah lukisan raja-raja kasunanan, mulai dari PB X, XII, XII, hingga SISKS Paku Buwono XIII. Kendati demikian, suasana sakral orang tirakat di kolam ini pun tak jauh berbeda dengan kolam sebelumnya. Wangi ratus masih memenuhi ruang-ruang di kolam air tersebut. 

“Di kolam ini dulu khusus untuk pemandian raja. Kalau saya belum pernah masuk sini, tapi banyak yang teman saya memang tujuannya kungkum di kolam ini,” jelas Warsito. 

Untuk berendam di kolam ini, terdapat papan pemberitahuan berisi tarif masuk bagi pengunjung ke umbul-umbul di kompleks Tirta Marta. Pada hari biasa dikenai Rp 3.500, sedangkan pada hari libur dan Minggu, termasuk saat Syawalan, Natal, dan tahun baru Rp 4500. 

Sedangkan besaran tarif yang dikenakan pada satu kendaraan roda dua Rp 1.500 dan Rp 2.500 untuk kendaraan roda empat. Sementara untuk besaran tarif yang dikenakan untuk masuk Umbul Temanten dan Duda Rp 1.500 dan Umbul Ngabean Rp 2.500 untuk tiap orang. “Itu kalau jam kerja, kalau malam seperti ini gratis,” beber Warsito.

Pesona kolam pemandian raja ini menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk melakukan ritual kungkum di kolam tersebut. Namun apakah benar cerita di balik kolam pemandian raja itu? Koran ini lantas menemui seorang kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, yang juga merupakan adik PB XIII, KGHP Dipokusumo. 

Dipokusumo membenarkan bahwa  Tirta Marta itu merupakan kolam pemandian raja Keraton Kasunanan Surakarta. Mulai dibangun pada masa PB X. “Nah, kalau nama Umbul Pengging ini diambil karena letaknya berada di wilayah kekuasaan Ki Ageng Pengging. Peninggalan beliau ini kemudian dikelola oleh keraton,” jelas Dipo.

Dia kemudian menjelaskan kesejarahan nama-nama umbul tersebut. Pertama adalah Umbul Temanten, yang pertama kali ditemukan oleh PB X. Umbul ini merupakan dua mata air berbeda yang kemudian disatukan oleh PB X. Berpadunya kedua umbul tersebut kemudian diberi nama Umbul Temanten.

“Filosofinya dua hal yang menjadi satu. Seperti pengantin yang dipersatukan dalam satu keluarga. Hal yang bisa dipetik adalah dalam  mengarungi rumah tangga, suami istri harus bisa menjalin hubungan yang baik dan selalu rukun,” beber Dipo.

Kedua, Umbul Ngabean. Menurut Dipo, kolam air yang satu ini dulunya rutin digunakan untuk mandi raja dan keluarga kerajaan. Maka dari itu, penamaan Umbul Ngabean diambil dari kata Ngabehi. Kemudian ketiga, Umbul Duda di mana saat pertama kali ditemukan oleh PB X terdapat satu kura-kura jantan yang tidak ada temannya, maka penamaannya diberinama Umbul Duda.

 “Kalau dilihat dari sejarahnya ya sebenarnya yang boleh untuk umum itu temanten dan duda, tapi karena pengelolaannya ada di pemerintah daerah dan telah jadi objek wisata setempat, maka dibuka umum. Nah, kalau masih diuri-uri masyarakat ya malah baik, berarti masih memiliki fungsi, nilai sejarah dan budaya,” ujar Dipo.

Mengenai ritual seperti ziarah dan kungkum, Budayawan Keraton Kasunanan BRM Bambang Irawan mengatakan bahwa esensi dari tirakat merupakan cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang bisa dilakukan lewat berbagai cara. Salah satunya lewat ziarah ke makam-makam leluhur ayau pun ritual kungkum. “Ziarah ini cara untuk mengingat asal usul kita sebagai manusia dan cara untuk mengingat kembalinya manusia,” jelas Bambang Irawan.

Tujuannya untuk membentuk kesadaran batin dengan menekan hasrat jasmaniah agar muncul sebuah kesadaran batiniah. Biasanya disertai dengan doa dan ritual khusus. Sementara soal malam-malam khusus, dirinya menilai itu bebas dilakukan kapan saja. Namun dalam paradigma pandangan Jawa, Malam Jumat merupakan malam yang lebih sakral untuk upaya membersihkan diri. 

“Malam Jumat bagi orang Jawa merupakan waktu yang baik untuk introspeksi dan mawas diri. Kalau untuk orang muslim, Jumat itu merupakan waktu untuk membersihkan diri dengan cara berpuasa,” ujarnya.

Yang perlu ditepis ini adalah pemikiran-pemikiran yang tidak baik. Misalnya orang mengeramatkan makamnya, bukan fokus pada tata cara laku tirakatnya. Hal semacam ini disebut juga oleh Koentjaraningrat dalam tujuh elemen kebudayaan. 

Lantas seberapa penting produk budaya itu dijaga? Menurut dia, hal macam ini tak perlu dijaga. Tidak dilarang atau sengaja dihilangkan saja sudah cukup, karena esensi budaya itu akan selalu bergeliat jika masih ada pelakunya. 

“Peran pemerintah harus lebih jeli dalam menangkap potensi itu. Karena mau bagaimanapun pusat keramaian itu bakal menjadi roda-roda perekonomian rakyat. Maka pendekatan kearifan lokal dan budaya,” tutur Bambang Irawan. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia