Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Sepak Bola Klaten Harus Bangkit

09 April 2019, 13: 36: 47 WIB | editor : Perdana

Agung Santoso

Agung Santoso

Share this      

KLATEN - Kabupaten Klaten banyak melahirkan para pemain sepak bola ternama yang berkarir di Liga Indonesia. Mulai dari Fachruddin Aryanto (Madura United), Tri Handoko (eks Persis Solo), hingga Andrid Wibowo (eks Persik Kendal). 

Di kabupaten ini juga memiliki klub lokal bernama PSIK. Sayangnya tim ini berkutat di kasta Liga 3. Bahkan tak ada catatan manis yang menuliskan tim berjuluk Harimau Merapi tersebut sukses melaju ke kasta tertinggi di Indonesia. Baik dari tahun 1930an di zaman Belanda, hingga era Liga Indonesia saat ini.

”Klub kebanggaan klaten ini tidak bisa berkembang dengan baik. Seharusnya pengurus PSIK Klaten bisa lebih banyak mengadakan turnamen usia muda, agar bisa melihat perkembangan sepak bola di Klaten,” terang salah satu pemain sepak bola dari Klaten, Agung Santoso kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Mantan kiper PSIM Jogja ini juga mengkritisi PSIK yang jarang melakukan seleksi kepada pemain lokal. Seringnya tim ini hanya mengandalkan pemain lama, yang beberapa pemain hanya dikenal pelatih dari kompetisi tarkam. 

”Kita tidak bisa mengukur skill pemain hanya dari tarkam. Karena sebenarnya pemain tarkam hanya bermain dengan waktu tertentu saja, beda dengan waktu pada pertandingan resmi,” terangnya.

Dirinya juga melihat sering melihat tim ini melakukan persiapan pembentukan tim dengan tak maksimal. Seperti cukup mepetnya persiapan, jelang bergulirnya kompetisi yang diikutinya. 

“Seharusnya manajemen (PSIK) bisa lebih gencar mencari seponsor, agar uang subsidi untuk mengarungi kompetisi Liga 3 tidak kurang. Ini juga agar pemain tidak mengeluh lagi akan masalah gaji yang selalu telat,” tuturnya.

Jika bicara infrastruktur, sejatinya keberadaan Stadion Trikoyo bisa jadi magnet utama kabupaten ini untuk mengembangkan persepak bolaan di Klaten. Sayangnya dari sarana latihan saja masih terlihat sangat minim. 

Dirinya juga membandingkan, bahwa prestasi sepak bola di Klaten malah kalah dari tim futsal-nya. Di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2018 di Solo, tim sepak bola Klaten gagal lolos dari babak grup, sebaliknya kontingen futsal malah bisa membawa emas. 

”Dilihat dari hasil kejuaraan Liga 3 dan Porprov, bisa dibilang sepak bola di Klaten harus cepat berbenah. Ini agar tidak terlalu banyak ketinggalan dari kabupaten tetangga,” ujarnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia