Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Tanggul Sungai Dengkeng Kritis, Sebanyak 40 Titik Butuh Perhatian

11 April 2019, 18: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Tanggul Sungai Dengkeng Kritis, Sebanyak 40 Titik Butuh Perhatian

KLATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten sudah mengidentifikasi tanggul di sepanjang aliran Sungai Dengkeng. Hasilnya, terdapat 40 titik tanggul dalam kondisi kritis. Butuh penanganan serius. Karena kawasan yang dilintasi Sungai Dengkeng rawan banjir.

Berdasarkan data BPBD Klaten, terdapat delapan kecamatan dan 32 desa dilalui Sungai Dengkeng. Meliputi Kecamatan Prambanan, Gantiwarno, Wedi, Bayat, Trucuk, Cawas, Juwiring, dan Wonosari.

”Pendataan sudah dilakukan dengan para relawan. Penyebab tanggul kritis karena tergerus aliran air yang cukup deras. Musim penghujan kali ini membuat kondisi tanggul kian kritis,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten Sri Yuwana Haris Yuliyanta kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (10/4).

Sejumlah titik tanggul dilaporkan jebol. Sudah dilakukan penanganan darurat. Melalui gotong royong bersama warga dan relawan. Menggunakan bilah bambu  dan karung berisi pasir. Hasil pendataan tanggul kritis, langsung diserahkan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). Karena kewenangan ada di tangan mereka. Harapannya segera ada tindak lanjut.

”Laporan yang masuk ada 8 titik tanggul kritis di Kecamatan Wonosari. Empat titik di Kecamatan Gantiwarno. Di Kecamatan Cawas 12 titik dan 16 titik di Kecamatan Bayat. Kami terus berkoordinasi dengan BBWSBS untuk penanganannya,” beber Sri.

Kepala BBWSBS, Charisal A. Manu menyebut pihaknya sudah melakukan identifikasi pada sungai di wilayah kerjanya. Termasuk longsor pada tanggul akibat curah hujan tinggi. ”Penanganan kerusakan bisa dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama secara tanggap darurat memanfaatkan bahal bahal lokal di sekitarnya. Ini untuk menanggulangi agar tidak terjadi kerusakan lebih besar,” urainya.

Pemulihan diperlukan kajian secara mendalam. Apakah struktur tanah dimungkinkan dibuat konstruksi tertentu. Tetapi kerusakan itu segera tertangani dengan struktur tepat. Serta biaya yang murah. Sedangkan jika dibangun dengan kontruksi permanen, butuh biaya besar.

BBWSBS mengapresiasi upaya Klaten dalam melibatkan komunitas dan warga. Termasuk tanggul kritis yang ada di sepanjang Sungai Dengkeng. ”Contohnya pembenahan sepanjang 5,8 km di Sungai Bengawan Solo. Induknya membutuhkan anggaran hingga Rp 120 miliar. Padahal panjang sungainya mencapai 700 km dari Wonogiri hingga Gresik, Jawa Timur. Tertangani permanen jangka panjang, sedang, dan pendek baru 300 km,” terang Charisal. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia