Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Boyolali

Petani Keluhkan Harga Jual Gabah

11 April 2019, 16: 30: 59 WIB | editor : Perdana

SUKSES: Panen raya di Desa Jeron, Nogosari, Selasa (9/4).

SUKSES: Panen raya di Desa Jeron, Nogosari, Selasa (9/4). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Keberhasilan pola tanam serentak dirasakan petani di Kecamatan Nogosari, Boyolali. Hasil panen melimpah, menjadikan areal sawah tadah hujan ini jadi andalan Kota Susu. Sayangnya, harga jual gabah dinilai masih terlalu rendah.

Budi Raharjo petani asal Nogosari mengaku panenan saat ini butuh perjuangan ekstra. Terutama ketersediaan air baku untuk mencukupi kebutuhan sawah. Dia dan anggota kelompok taninya mengandalkan pompa air swadaya. Pihaknya berharap pemerintah membantu petani terkait harga jual gabah.

”Pemerintah Kabupaten dan kecamatan sudah cukup membantu benih dan pendampingan berupa penyuluhan. Untuk tingkat pusat, mohon bantuan untuk menjaga harga gabah tidak jatuh. Apalagi kebijakan impor beras memberatkan kami,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali Bambang Jiyanto menyebut meski musim tanam mundur, mampu mencapai target tahun ini. Menempatkan Boyolali menjadi daerah lumbung padi.

”Khusus wilayah Nogosari, padi ditanam pada lahan seluas lebih dari 2.700 hektare. Bisa panen 16.500 ton padi. Selama tiga bulan terakhir, padi ditanam di lahan seluas 14.567 hektare. Selain itu ada 15 ribu hektare yang ditanam dengan sistem standing crop,” ujar Bambang. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia