Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features
Taklim

Pemilu dan Istikharah

12 April 2019, 08: 10: 59 WIB | editor : Perdana

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan. (DOK.PRIBADI)

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan. (DOK.PRIBADI)

Share this      

Pemilihan Umum (Pemilu) tinggal menghitung hari. Pilihan kita pada 17 April nanti akan menentukan nasib bangsa untuk lima tahun ke depan. Karena selain memilih presiden dan wakilnya, kita akan menentukan 575 anggota DPR, 136 anggota DPD, anggota DPRD se-Indonesia periode 2019–2024. 

Karena itu, sebelum menjatuhkan pilihan perlu kita pikirkan dengan sangat matang dan tidak lupa memohon petunjuk kepada Allah SWT melalui salat Istikharah. Ketika kita memilih, ada dua pertimbangan rasional harus kita kedepankan, yaitu pertama pemimpin yang layak atau ashlah sesuai pertimbangan agama. Kemudian kedua, bukan didasarkan pada sifat mulia yang melekat pada pemimpin, misal karena kedekatan emosional, suap atau risywah dan sejenisnya. 

Pemimpin ashlah adalah pemimpin yang kuat dan amin (dapat dipercaya). Kuat bermakna otoritas dan kompeten. Sedangkan amin berarti  amanah, berkualitas dan bertakwa. Di mana ini tercermin dalam integritas pribadinya. 

Kita turut prihatin karena banyak pemimpin dan anggota dewan kita yang terjerat kasus korupsi  hingga berujung masuk bui. Ini pertanda bahwa kita telah gagal memilih wakil rakyat kita di DPR mulai pusat sampai daerah. Kegagalan ini menunjukkan ketidaktahuan atau karena ketika memilih menggunakan pertimbangan yang salah.  

Selain pertimbangan rasional, kita harus bermunajat pada Allah agar pilihan benar-benar tidak salah melalui salat  Istikharah.

Istikharah merupakan salat sunah yang dianjurkan untuk memohon petunjuk kepada Allah atas segala urusan, baik saat dilanda keraguan saat akan memilih pasangan (menikah), memilih pekerjaan, termasuk menentukan pilihan pemimpin. 

Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah salat dua rakaat yang bukan salat wajib, kemudian berdoalah…”. (HR. Bukhari)

Istikharah merupakan usaha untuk memohon kepada Allah SWT agar memberikan pilihan terbaik. Karena belum tentu sesuatu yang kita kira baik itu baik bagi kita. Ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Lalu apa yang harus dilakukan setelah Istikharah? Para ulama menjelaskan bahwa setelah Istikharah hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai keinginan hatinya. Setelah menjalankan salat ini, biasanya di dalam hati timbul rasa tenang dan mantap terhadap salah satu pilihan yang ada. 

Jadi, selalu libatkan Allah dalam semua pilihan hidup, termasuk dalam memilih pemimpin. Karena ibadah dalam Islam meliputi seluruh aspek kehidupan mulai dari ekonomi, sosial, budaya, dan juga politik. 

Maka memilih para pemimpin negara adalah bagian dari ibadah yang harus kita pertanggungjawabkan baik di dunia sampai akhirat. Karena itu, dalam pemilu nanti, kita harus bermunajat kepada Allah SWT agar dapat memilih presiden dan wakil presiden, serta wakil-wakil rakyat yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. (*)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia