Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Menelusuri Sisa-Sisa Kebesaran Keraton Pajang

Situs Dirawat ala Kadarnya, Sering Tergenang Banjir

13 April 2019, 14: 23: 19 WIB | editor : Perdana

Situs Dirawat ala Kadarnya, Sering Tergenang Banjir

Meski secara usia pemerintahan tidak terlalu panjang, Keraton Pajang memiliki peran penting dalam sejarah cikal bakal lahirnya Kerajaan Mataram. Sayangnya, sisa-sisa kebesaran kerajaan yang dibangun Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) ini cukup sulit dilacak. Saat ini memang ada beberapa tempat yang diyakini merupakan wilayah Keraton Pajang saat itu. Bukti tersebut berupa sebuah petilasan di Kampung Sonojiwan RT 05 RW 22, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

BEGITU masuk ke area petilasan Keraton Pajang, ada plakat cagar budaya yang dipasang Pemkab Sukoharjo sejak 2014. Sayangnya, meski plakat itu sudah terpasang jelas di sekitar akses utama memasuki situs, tata kelola situs budaya itu terlihat kurang terpelihara.

Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya lumut di dua buah patung ukuran jumbo yang dipasang di kanan-kiri gapura masuk petilasan. Masuk lebih dalam, pengunjung akan disuguhi pelataran yang kurang tertata rapi. Pelataran di depan petilasan itu tampak tidak rata. 

Di beberapa bagian tumpukan material bekas bongkaran bangunan tersebar hampir di setiap sudut pelataran itu. Mirisnya, bongkahan material yang berada di sana bukan karena ketidakpedulian masyarakat, tapi karena pengurus petilasan kesulitan jika harus membeli tanah urugan untuk meratakan pelataran tersebut. 

“Jadi warga di sini memang diarahkan kalau mau buang berangkal di sini saja. Hitung-hitung untuk meratakan tanah yang ada di sini,” ujar Juru Kunci Petilasan Keraton Pajang, Ny Slamet Rahayu, 65.

Juru kunci yang bertugas merawat lokasi itu sejak 4 tahun terakhir inilah yang setiap hari bertugas mengurus situs sejarah tersebut. Di waktu-waktu tertentu, sejumlah warga kampung setempat dan para pelaku tirakat juga kerap membantu merawat lokasi itu secara sukarela. Maka jangan heran jika upaya perawatan situs saat ini hanya ala kadarnya. 

“Saya jadi juru kunci menggantikan almarhum suami saya, Jasmin. Setelah suami meninggal, saya diminta para peziarah menggantikan sebagai juru kunci,” jelas Rahayu.

Rahayu lalu mengajak koran ini berkeliling menengok detail setiap sudut petilasan tersebut. Masuk ke lokasi utama situs, koran ini langsung disambut sebuah gapura mirip bangunan candi. Di belakangnya ada dua buah patung yang dipasang di setiap ujung petilasan. Yang satu merupakan patung sapi warna putih bernama Ki Gedhong Wono Sari dan satu lainnya merupakan patung harimau putih bernama Ki Anggoro Seto. 

“Dulu waktu lokasi ini dipugar, ada ahli spiritual yang menghibahkan patung-patung ini. Kata beliau dua sosok makhluk ini merupakan pusaka dari Joko Tingkir. Makanya dipasang di dekat pintu masuk sebagai sosok penjaga situs ini,” jelas dia.

Tak jauh dari keberadaan dua patung itu, terdapat dua beringin ukuran sedang dengan sulur-sulurnya yang menjalar. Dua pohon beringin ini dikenal dengan sebutan “Ringin Sungsang”. 

“Konon, beringin-beringin ini sengaja dipasang untuk memberikan kesan lebih sakral mengingat keraton-keraton selalu memiliki dua buah ringin kembar yang dipasang di alun-alun keraton setempat. Jadi biar lebih mirip keraton saja,” jelas Rahayu.

Di sela antara patung sapi dan pohon beringin, juga terdapat sebuah papan informasi berisi silsilah Sultan Hadiwijaya. (lihat gambar) Silsilah tersebut dituliskan oleh sejumlah sejarawan dan budayawan yang kemudian dihibahkan untuk dipasang di tempat itu.

Selain papan informasi itu, di petilasan ini juga terdapat banyak lukisan. Salah satu yang paling menarik adalah lukisan Joko Tinggir yang sedang baik sebuah rakit bersama ketiga abdinya bernama Willa, Wuragil, dan Manca sembari dikawal pasukan buaya putih dan Panembahan Senopati. “Konon cerita, potongan dari rakit yang dinaiki Jiko Tinggir saat itu disimpan di sekitar situs utama petilasan Keraton Pajang. “

Di lokasi yang sama dengan potongan rakit itu, terdapat pula sebuah pondasi tiang kayu dari batu yang disebut Selo Ompak Kyai Seblak. Di atas ompak itu dipasang sebuah patung Sultan Hadiwijaya yang di atasnya dilengkapi dengan patung Makhuto (mahkota) yang ditutupi dengan sebuah songsong (payung) ukuran besar. “Benda yang asli dari sini ya ompak ini. Jadi kalau peziarah berdoa ya di lokasi ini,” jelas Rahayu.

Tak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah pintu yang di atasnya tertulis “Museum Keraton Pajang”. Memasuki pintu kecil itu koran ini langsung disuguhkan pemandangan berbagai benda bersejarah yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan keberadaan Keraton Pajang. 

“Di sini ada tatakan dan lumpang (Mbah Wali Ngompang), kentongan yang dibuat dari patik pengikat gajah (Kyai Kentongan), Selo Lumpang (Mbah Kenteng Menuran), dan banyak lainnya,” papar dia.

Selain banyaknya artefak yang dipercaya berasal dari masa kejayaan Keraton Pajang, situs tersebut juga memiliki sebuah mata air yang terletak di belakang situs utama. Sumber air itu dinamakan Sumber Panguripan Tirtomulyo Sekar Kedaton yang kerap dijadikan lokasi untuk membersihkan diri para peziarah yang rutin datang ke situs tersebut. 

“Di sini banyak titik yang dianggap memiliki nilai sejarah. Sayangnya masih kurang dalam perawatan,” keluh Rahayu.

Selain pengelolaan yang ala kadarnya itu, lokasi situs yang berada di bantaran Sungai Brojo itu juga kerap dilanda banjir saat hujan deras. Air sungai kerap meluap hingga menggenangi seluruh lokasi situs. Mulai dari pendapa utama hingga bangsal-bangsal yang ada di sekeliling situs. 

“Di sini memang langganan banjir. Kalau hujannya sangat lebat, banjir baru surut tiga hari kemudian. Biasanya kalau seperti itu para peziarah yang rutin kemari dan warga sekitarlah yang membantu saya bersih-bersih,” jelas dia.

Selain beberapa kekurangan dalam hal pengelolaan, pendanaan situs yang satu ini juga hanya mengandalkan sumbangan dari para peziarah. Untuk operasional seperti listrik dan air biasa diambil dari kotak sumbangan yang dipasang di depan pendapa setempat. Sementara untuk kegiatan ritual setiap malam Jumat Legi (wilujengan) biasanya didapat dari sumbangan para peziarah yang ingin menggelar upacara selamatan di patilasan tersebut. 

“Tidak ada bantuan dari pemerintah. Semuanya ditanggung sendiri oleh teman-teman peziarah yang rutin di sini. Sekarang juga lagi persiapan untuk wilujengan nanti malam,” ujar Rahayu saat wawancara pekan lalu.

Koran ini sempat mengikuti juru kunci ke sebuah bangsal kecil di belakang pendapa tersebut. Di sebuah bangsal itu, sejumlah perlengkapan masak telah tertata rapi dan dipilah sesuai peruntukannya oleh ibu-ibu di sekitar petilasan tersebut. Aroma gurih pun tercium dari salah satu dandang yang dipakai untuk memasak nasi gurih dan ingkung (ayam utuh). “Kalau masak untuk wilujengan ya di sini. Di bangsal ini (Bangsal Gandarasa),” jelas dia.

Menjelang Maghrib, suasana petilasan makin sakral. Sejumlah ratus dan berbagai bunga-bungaan mulai dipasang di sejumlah sudut. Menjelang Isya, para peziarah mulai datang silih berganti. Tak lama kemudian, sejumlah makanan hasil masak bersama sore tersebut mulai dibawa ke tengah pendapa. Di sana, makanam mulai ditata dipiring sesuai dengan jumlah peziarah yang hadir malam itu. Usai doa, satu nampan sesajian berisi segelas air putih, teh, dan kopi pahit lengkap dengan bunga-bungaan, dan kepala ayam di bawa di situs utama di sekitar Selo Ompak Kyai Seblak. “Wilujengan ini ya dari peziarah di sini. Kalau untuk kali ini dananya hanya Rp 400 ribu. Pokoknyan dibuat cukup untuk semuanya,” jelas Rahayu.

Situs Berdiri di Atas Tanah Kas Desa

Situs Petilasan Keraton Pajang sendiri sesungguhnya merupakan bangunan baru yang sengaja dibuat untuk mengenang kebesaran Sultan Hadiwijaya yang tercatat sebagai penguasa Pajang pada periode 1568-1587. Kemunculan situs ini pun unik, berawal dari penemuan batu pondasi awal yang diyakini sebagai penyangga tiang keraton penerus Kerajaan Demak tersebut. Lantas bagaimana perjalanan sebuah kebun ketela menjadi sebuah situs sejarah dan budaya bernama Petilasan Keraton Pajang. 

Ketua Paguyuban Keraton Pajang, KRAT Pudjono Hadinagoro mengatakan bahwa situs ini kali pertama dibangun pada 3 Desember 1993. Kala itu, sebuah ompak yang diyakini sebagai pondasi tiang keraton ditemukan di aliran Sungai Brojo yang berada di belakang lokasi petilasan Kampung Sonojiwan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. 

Setelah di utarakan dengan pemangku desa setempat, akhirnya tanah khas desa yang dulu berupa tegalan dihibahkan untuk lokasi petilasan itu. “Dulu ada ahli spiritual yang menerawang untuk melihat lokasi paling tepat untuk meletakkan ompak tersebut. Setelah beberapa kali bertapa, akhirnya tanah gumuk (tanah tinggi) yang tak dapat ditumbuhi tanaman akhirnya dipakai untuk menaruh ompak itu,” kata dia.

Lokasi itulah cikal bakal petilasan. Tanah tinggi itu lantas dinamakan Siti Inggil sebagai penghormatan pada situs peninggalan Keraton Pajang. Awalnya, lokasi ini hanya berupa tanah yang diratakan. Sering berjalannya waktu, lokasi itu pun dipugar dengan berbagai penambahan. Atas dukungan sejumlah paguyuban kejawen dan keturunan Keraton Pajang, situs ini lantas dibesarkan hingga menjadi seperti saat ini. “Semua digarap bertahap dari bantuan orang-orang yang peduli dengan situs ini,” jelas Pudjono.

Lama kelamaan, para peziarah pun makin banyak berdatangan. Bersamaan dengan itu, sejumlah peziarah yang merasa memiliki benda-benda yang diduga berasal dari Keraton Pajang lantas menghibahkan koleksinya ke petilasan itu. Dari sana lah asal koleksi benda-benda bersejarah yang disimpat di museum setempat berasal. 

“Di sini banyak barang-barang hibah dari berbagai kalangan masyarakat. Sebagian besar masih kerabat Mataram yang menghibahkan koleksinya ke sini,” jelas Pudjono.

Masalah banjir juga diakui Pudjono. Melihat letaknya yang dibangun di atas tegalan dan sebagian kolam air, lokasi itu jadi tempat menampung air. Parahnya, saluran drainase yang buruk di kampung setempat menambah potensi banjir di petilasan itu lama untuk surut. 

“Beberapa tahun lalu kami sempat membenahi drainase di sekitar kampung agar tidak langsung mengalir ke petilasan, namun bisa langsung dialirkan ke Sungai Brojo. Masalahnya, kalau sungai meluap tetap saja banjir,” jelas dia.

Pihaknya berharap pemerintah lebih memperhatikan situs tersebut. Mengingat status cagar budaya telah dipasang sejak 2014 silam. Terlebih seluruh pengurus di petilasan tersebut sudah berusia lanjut di atas 50 tahun. Dan cukup kesulitan jika harus membuat pengajuan proposal untuk bantuan dana. “Kami ini sudah tua dan tidak begitu paham dengan urusan birokrasi. Kalau bisa diperhatikan agar bantuan bisa mengalir kesini dan situs ini bisa lebih baik ke depannya,” tutup Pudjono. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia