Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Menulusuri Sisa-Sisa Keraton Pajang

Jumlah Pengunjung Petilasan Menurun

14 April 2019, 11: 20: 59 WIB | editor : Perdana

Jumlah Pengunjung Petilasan Menurun

KAMPUNG dan dukuh yang diyakini memiliki keterkaitan dengan jejak kebesaran Keraton Pajang mulai mendapat perhatian dari pemangku wilayah setempat. Yakni dengan melakukan pemetaan dan kajian untuk merekontruksi keberadaan Keraton Pajang dari sisi sejarah dan budaya.

“Kami sudah memetakan masalah apa saja yang ada di sana. Dan dari segi mana saja situs ini bisa dikembangkan. Kami akui memang ada penurunan kunjungan di situs ini. Padahal, beberapa tahun lalu lahan parkirnya sampai tidak mampu menampung kendaraan pengunjung,” urai Kepala Desa (Kades) Makamhaji Agus Purwanto. 

Sebab itu, imbuh Agus, pihaknya ingin kembali mengangkat pesona petilasan Kerajaan Pajang karena terbukti mampu meningkatkan perekonomian warga setempat. Contoh sederhananya, dari pendapatan parkir bisa mencapai Rp 300 ribu per hari. Belum ditambah bisnis kuliner.

Dari sisi sejarah, banyak nama kampung pada desa yang terdiri dari 75 RT dan 23 RW itu diyakini sebagai penanda bekas kebesaran Joko Tingkir. Seperti Dukuh Sanggrahan, Sonojiwan, Tirisan, Butulan, Timasan, dan lainnya. 

Kades yang merupakan warga asli Desa Makamhaji ini mengaku sedikit banyak tahu cerita yang berkembang di masyarakat soal penamaan dukuh. Seperti di dukuh tempat tinggal Agus, Nggobayan.

Menurutnya, dukuh tersebut merupakan tempat tinggal Adipati Jogobayan, salah seorang putra Sultan Hadiwijaya. “Kendalanya memang kurang pemeliharaan. Nanti kami bisa komunikasikan dengan dinas kebudayaan agar lebih detail memetakan permasalahan. Mungkin bisa di gelar Grebek Keraton Pajang dengan Tumpengan dari Pohong Pajang untuk angkat potensi lokal,” papar dia.

Senada diterangkan Lurah Pajang Agung Budianto. Pihaknya mengaku telah memulai rekontruksi kampung melalui  pendekatan sejarah yang dimulai sejak awal 2018. Enam bulan kemudian, kelurahan menggelar Kirab Ageng sebagai hasil dari pembedahan nama-nama kampung tersebut.

“Kami datangkan banyak pembicara. Ada sejarawan, ada budayawan, hingga para sesepuh kampung. Hasilnya kirab budaya dan pentas ketoprak. Ada yang unik, di sini ada kepercayaan untuk tidak mementaskan ketoprak dengan memerankan Sultan Hadiwijaya. Karena diyakini akan ada bencana saat angin ribut sampai si aktor bisa meninggal. Walau tidak tahu bagaimana kebenarannya, kepercayaan seperti ini masih hidup di masyarakat,” beber dia.

Terpisah, sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto menjelaskan, penamaan kampung maupun dukuh dapat dijadikan modal awal membedah petilasan Kerajaan Pajang. Sebelum ke arah tersebut, harus diawali kajian komparasi. Dia optimistis hal itu bisa dicapai asal mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

“Susunan Keraton Demak dan Pajang itu sama. Yaitu ada alun-alun, ada pagelaran, lalu keraton. Lantas di belakangnya ada pasar. Kemudian di timur alun-alun ada masjid. Struktur ini merupakan denah bangunan Kerajaan Majapahit yang akhirnya diadopsi oleh keraton setelahnya,” terang dia. 

Bedanya, imbuh Susanto, pada zaman kerajaan Hindu-Buddha, di sisi kanan kiri alun-alun ada pura dan wihara. Sedangkan di masa kerajaan Islam, di kiri alun-alun ada masjid. “Perubahan keyakinan yang dianut akhirnya mengubah kontruksi bangunan masing-masing keraton,” katanya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia