Minggu, 18 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ke Mana Suara Milenial Kota Bengawan Berlabuh di Pemilu?

Capres Sudah Mantap, Caleg Masih Gelap

15 April 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Perdana

Ke Mana Suara Milenial Kota Bengawan Berlabuh di Pemilu?

Coblosan digelar Rabu lusa (17/3). Namun, fakta di lapangan masih banyak pemilik hak suara gamang dalam menentukan pilihan mereka atau dikenal dengan istilah swing voters. Kelompok ini didominasi kaum milenial yang selama ini banyak cuek terhadap politik. Lantas ke mana suara mereka berlabuh di pemilu dan pilpres kali ini?

Cuek terhadap urusan politik. Ini yang menjadi salah satu ciri khas kaum milenial. Padahal, suara mereka sangat menentukan perolehan suara kandidat capres maupun  caleg. Sayangnya, suara mereka belum optimal digarap. Bahkan, untuk hajatan demokrasi kali ini mereka masih ikut-ikutan dalam menentukan pilihan.  

Rendri Setiawan, 18, pelajar asal Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan ini salah satunya. Meski debat capres-cawapres sudah berlangsung lima kali, dia mengaku masih bingung menentukan sikap. Pasalnya dia kurang mengerti apa visi-misi dari kedua capres yang berpihak kepada kaum milenial.

Meski begitu, siswa kelas XII salah satu SMA di Kota Bengawan ini mengatakan akan memilih paslon nomor urut 01. Namun itu bukan karena kemantapan hati, melainkan hanya sekadar ikut-ikutan untuk menggugurkan kewajiban.

 “Karena orang tua saya pendukung Jokowi. Kemudian dia juga orang Solo. Jadi sebagai wong Solo, saya juga mendukung beliau,” katanya.

Meski dia sendiri mengaku tidak paham tentang program capres pilihannya, tapi setidaknya Jokowi sudah teruji. Mulai dari menjabat wali kota Solo, kemudian naik menjadi gubernur DKI hingga posisi tertinggi presiden. “Berarti Jokowi mampu, karena sepak terjangnya di pemerintahan sudah terlihat dan teruji,” paparnya.

Lalu bagaimana dengan caleg, remaja ini langsung mengerutkan dahi. Pasalnya dia tidak tahu nama-nama caleg yang akan bertanding di pemilu tahun ini. “Kalau caleg benar-benar tidak tahu. Banyak sih gambar caleg dipasang di gang-gang depan rumah, tapi saya tidak kenal mereka. Apalagi mengerti visi-misi mereka,” katanya.

Makanya sampai sekarang dia belum menentukan pilihan untuk caleg. Tapi dia akan tetap memberikan suaranya pada 17 April nanti. “Mungkin nanti saya akan coblos gambar partainya saja, tidak tahu itu sah atau tidak,” katanya.

Hal senda juga diungkapkan Deasy Safitri, 20. Warga asal Kampung Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari ini mengaku saat ini belum menentukan pilihan untuk caleg. Sebab mahasiswi salah satu universitas swasta di Kota Bengawan ini belum pernah sama sekali mendengar visi-misi dari caleg, baik itu DPR-RI, DPD, DPRD provinsi maupun DPRD kota, yang akan maju pada pemilu lusa.

“Karena selama ini yang diperdengarkan adalah visi-misi calon presiden saja. Memang nanti presiden yang akan menentukan kebijakan. Namun caleg yang akan menjadi wakil kita di parlemen. Bagaimana kita bisa tahu visi misi mereka kalau selama ini tidak ada sosialisasi,” ujarnya.

Lain lagi dengan pilihan presiden, Deasy mengaku memang awalnya sempat memilih paslon nomor urut 02. Namun setelah melihat beberapa perkembangan di lapangan dan beberapa kali debat, dia akhirnya menjatuhkan hati untuk pasangan 01. “Karena sepertinya programnya terstruktur. Di mana periode ini peningkatan infrastruktur, sedangkan untuk periode selanjutnya peningkatan SDM,” katanya.

Pandangan berbeda diutarakan Emanuel Don Bosco, 22. Mahasiswa asal Papua yang sedang mengemban pendidikan di Kota Solo ini awalnya memilih Jokowi untuk kembali memimpin. Namun  setelah menonton debat kemarin dia beralih mendukung Prabowo. Hal ini pasca kata pamungkas dari Sandiaga Uno, di mana dia dan Prabowo bila terpilih tidak akan mengambil gaji presiden dan wakil presiden. Seluruh gajinya akan diberikan kepada negara, kaum yatim maupun duafa.

“Memang di era Jokowi pembangunan infrastruktur di mana-mana, namun saya rasa belum bisa dirasakan seluruh masyarakat. Contohnya tol, cuma bisa digunakan mereka yang punya kendaraan roda empat. Saya yakin paslon 02 nanti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Apalagi kata Emanuel, cawapres 02 berasal dari kaum muda. Tentu dia diharapkan bisa mewakili pandangan-pandangan kaum milenial seperti dirinya. “Menurut saya Bang Sandi merupakan sosok yang selama ini ditunggu-tunggu anak muda. Sudah saatnya anak muda menjadi pemimpin,” ujarnya. 

Pilihan calon yang mewakili anak muda juga diungkapkan Nisa Azzahra, 18. Pelajar salah satu SMA favorit di Solo ini menyatakan mantap memilih paslon 02 karena sesuai dengan kriterianya. “Cawapresnya ganteng dan cerdas. Mewakili anak muda banget. Mengerti kita-kita kaum milenial. Makanya saya tak ragu nyoblos paslon 02,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia