Selasa, 19 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Coblosan,Akses Informasi Kaum Milenial Lebih Banyak Didapat dari Media

15 April 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Coblosan,Akses Informasi Kaum Milenial Lebih Banyak Didapat dari Media

SOSIALISASI Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai belum menyentuh kaum milenial. Buktinya, mereka lebih banyak mendapat asupan informasi dari media massa dan sosial media.

Setidaknya ini tercermin dari survei yang dilakukan Lembaga Penelitian Multi Prospek Development Research Center (MPDRC) Surakarta. Di mana sasaran responden merupakan pemilih milenial di Kota Solo yang akan menggunakan hak pilihya untuk kali pertama pada pemilu 17 April ini. 

Survei dilaksanakan pada 20 Februari-10 Maret 2019. Responden merupakan pemilih pemula berstatus pelajar dengan usia minimal 17 tahun. Sampel yang diambil sebanyak 477 responden yang tersebar merata seluruh daerah pemilihan (dapil) di Kota Bengawan. Pengambilan sampel dilakukan secara sistematis acak sederhana (systematic simple random sampling) dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sebesar 4,3 persen.

Dari survei tersebut diketahui jika akses media informasi responden terhadap berita politik dan pemilu mayoritas didapat dari media televisi sebesar 57 persen. Kemudian diikuti dari media sosial 21,6 persen. Dan 5,9 persen responden mengakses berita politik melalui portal berita online. Selain itu dari surat kabar, radio, sekolah, dan penyelenggara pemilu.

 “Dari hasil ini menunjukkan peran media lebih dekat dengan responden pemilih milenial dibandingkan informasi lewat pertemuan langsung seperti sosialisasi oleh penyelenggara, peserta pemilu dan sekolah,” beber Koordinator Riset MPDRC Surakarta Nunik Nurhayati.

Dari akses media sosial sebagai media yang dekat dengan kehidupan responden pemilih milenial Kota Solo, mayoritas responden pemilih milenial mengakses Instagram 71,1 persen, kemudian diikuti Facebook 21,6 persen. Sementara platform lain masih di bawah 5 persen, seperti Twitter dan Whatsapp.

“Akses media sosial Instagram ini menggeser Facebook yang pada pemilu 2014 lalu dianggap sebagai media terbesar yang diakses oleh pemilih milenial,” terang Nunik.

Sebelumnya MPDRC merilis survei yang sama soal sosialisasi peserta pemilu untuk pemilih milenial di Kota Solo. Mereka menganggap KPU belum melibatkan partisipasi pemilih milenial secara maksimal. Responden pemilih milenial sebesar 56,8  menyatakan belum ada sosialisasi secara langsung kepada mereka, baik dari penyelenggara pemilu dan peserta pemilu.

Sementara yang menjawab sudah ada sosialisasi dan ikut serta daalam sosialisasi pemilu sebesar 43,2 persen responden. Sedangkan responden yang menentukan pilihan dan akan menggunakan hak pilih baru sebesar 70,4 persen, sementara yang belum menentukan pilihan masih masih 29,6 persen. 

“Jumlah responden yang belum menentukan pilihan ini berpotensi besar menyumbang angka golput di Kota Solo. Apabila tidak ditangani secara baik untuk menggerakkan partisipasi mereka,” ujarnya. 

Komisioner Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Surakarta, Bambang Christanto mengatakan, setiap sosialisasi memang didapati para pemilih pemula tidak mengetahui apa visi-misi, bahkan calon yang akan bertanding, terutama caleg. 

 “Ketika ditanya band, mereka tahu, siapa saja personelnya, bahkan sampai hobi dan kebiasaan, namun ketika ditanya siapa caleg yang maju, mereka bingung,” katanya.

Bambang mengatakan, masih ada waktu untuk mencari profil caleg. Tidak harus bertatap muka dengan para calon semata, namun bisa lewat aplikasi dan situs resmi KPU. Di mana lewat dua hal tersebut sudah tertera informasi lengkap soal caleg, baik itu DPR RI, DPD, DPRD provinsi dan kota.

“Target kami tingkat partisipasi masyarakat 77,5 persen. Tidak hanya sekadar nyoblos. Namun mereka menentukan pilihan berdasarkan pandangan dan kesadaran ideologis. Sebab, nasib Indonesia lima tahun ke depan ada di tangan kita,” katanya.

Tidak hanya tugas KPU, tapi ini juga menjadi kewajiban parpol agar tidak hanya sosialisasi capres-cawapres, namun juga caleg mereka agar lebih dikenal masyarakat.

 “KPU sudah memberikan tenggang waktu kepada para peserta pemilu untuk mengenalkan diri kepada masyarakat. Kami harap ini dioptimalkan,” katanya.

Di sisi lain, guna menggenjot tingkat partisipasi masyarakat, KPU Surakarta terus sosialisasi ke berbagai elemen masyarakat hingga H-1 pencoblosan atau Selasa besok (16/4). Bahkan sehari sosialisasi bisa sampai tiga sampai empat kali. (irw/atn/bun)

(rs/irw/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia