Minggu, 15 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Kelompok Tani Mulai Kembangkan Beras Organik

15 April 2019, 14: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TELITI: Penyortiran beras organik di Desa Jenengan, Sawit.

TELITI: Penyortiran beras organik di Desa Jenengan, Sawit. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Hasil padi dari lahan persawahan di Boyolali melimpah. Kendati demikian, permasalahan baru mucnul. Seiring berjalan waktu, lahan pertanian mulai mengalami kerusakan.

Mengantisipasinya, beberapa kelompok tani mulai menanam secara organik. Kesuburan dan kelestarian tanah dikembalikan lagi. Dilakukan 27 kelompok tani yang terbagi di Kecamatan Teras, Banyudono, dan Sawit.

”Kami melihat petani di Boyolali berusaha menciptakan kesehatan hewan dan manusia. Berusaha mengembalikan struktur tanah yang baik, Melalui teknologi budidaya pertanian organik,” kata Ketua Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB) Murbowo kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin (14/4).

APOB melayani penyediaan beras organik. Prosesnya dilakukan dari pembelian padi dari petani, penjemuran, penggilingan, hingga pengepakan. Produksi beras dari APOB seperti pandan wangi, menthik susu, ciherang (C4), hitam, dan merah. 

Produksi beras rata-rata per hektare mencapai 6,5 ton. Hasilnya dikirim ke Jakarta dan Semarang. Mengingat di Boyolali sendiri belum begitu banyak peminatnya. ”Kami bisa memasarkan produk dalam skala besar. Petani bisa meningkatkan pendapatannya. Karena nilainya lebih dari beras biasa,” papar Murbowo.

Kepala Dinas Pertanian Boyolali Bambang Jiyanto menambahkan, APOB didukung pemerintah melalui Kementerian Pertanian. Berupa anggaran Rp 500 juta untuk penggilingan, pengeringan, dan packaging. Bambang mengimbau APOB dapat meningkatkan kualitas padi organik. ”Selalu perhatikan kebersihan. Penyortiran harus cermat,” bebernya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia