Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Kartini, 20 Tahun Mengabdi di Posyandu Mawar 2 Semanggi-Mojo

16 April 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TULUS: Kartini menerima bantuan sepeda untuk operasional posyandu dari pemkot. 

TULUS: Kartini menerima bantuan sepeda untuk operasional posyandu dari pemkot.  (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Aktif mengelola posyandu belum tentu semuanya mampu. Kalau pun ada yang bersedia, tidak bertahan lama. Berharap dapat materi? Jangan mimpi. Tapi, perempuan berkerudung ini mampu bertahan selama 20 tahun di Posyandu kampungnya.

IRAWAN WIBISONO, Solo

KARTINI pagi kemarin menebar senyum semringah. Dia baru saja mendapat bantuan sepeda dari Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo di Pendapi Gede balai kota, kemarin (15/4). Hibah serupa diberikan kepada 200 kader posyandu yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Pasar Kliwon, Serengan dan Banjarsari.

Perempuan 52 tahun itu tidak mempermasalahkan nilai sepeda yang akanjadi kendaraan operasionalnya. Namun, perhatian pemerintah atas kerja kader pos pelayanan terpadu (posyandu) menjadi yang utama. 

Kartini tercatat sebagai ketua posyandu Mawar 2 Semanggi-Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon. Selama dua decade, dia telah banyak makan asam garam tetang kerja sosial di posyandu. “Saya gembira di posyandu. Bisa bertahan 20 tahun karena sudah panggilan jiwa,” terang ibu tiga anak ini.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah penimbangan balita, imunisasi, konsultasi gizi, serta menyusun laporan secara berkala. Selain itu, Kartini juga mengatur agenda jika ada pihak tertentu hendak melakukan sosialisasi kepada keluarga memiliki anak balita di Semanggi-Mojo.

Fakta di lapangan, tidak semua orang tua aktif membawa balitanya ke posyandu. Dengan beragam alasan. Padahal, pemantauan tumbuh kembang anak sangat penting. Alhasil, nenek satu cucu harus mendatangi keluarga yang memiliki anak balita. Tak jarang dia memboncengkan orang tua dan bayinya menggunakan sepeda agar bersedia ke posyandu.

“Itu saya lakukan dengan senang hati. Senang juga kalau ketemu teman-teman, menimba ilmu, berbagi tips kesehatan. Tapi, sebagai pengurus sering juga dipaido (dicibir, Red). Ya dimaklumi saja,” ungkapnya.

Tak hanya dicibir, komplain terkait pelayanan posyandu kerap dialamatkan kepada Kartini. Dalam situasi tersebut, dia tetap tenang dan menjelaskan kepada masyarakat perihal kebijakan di posyandu. Dia menyadari, protes masyarakat tersebut karena kurang pahamnya dengan aturan.

“Kuncinya jadi kader itu harus ikhlas, gitu aja. Kalau kita berharap ini itu, nanti nggak bisa bertahan,” ucap dia.

Selama 20 tahun mengabdi, Kartini paham tantangan posyandu beragam. Dahulu, masalah yang dihadapi adalah keengganan ibu membawa anaknya ke posyandu. Sedangkan di zaman milenial ini, ada beberapa ibu enggan buah hatinya diimunisasi.

 Ibu-ibu muda masa kini juga cenderung membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga. Sehingga tidak memiliki waktu mengantar anaknya ke posyandu. Gantinya, anak diantar oleh asisten rumah tangga maupun nenek. Akibatnya, sang ibu tidak mengetahui secara detail kondisi anaknya. Permasalahan tersebut harus diselesaikan bersama demi kesehatan generasi penerus bangsa. (*/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia