Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Ayo Nyoblos dengan Nurani

17 April 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Ayo Nyoblos dengan Nurani

SOLO – Nasib Indonesia akan ditentukan hari ini (17/4). Seluruh warga yang memiliki hak pilih akan menyalurkan suaranya ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih pemimpin maupun wakil rakyat di parlemen lima tahun ke depan. Tokoh-tokoh Kota Bengawan pun menyerukan agar pesta demokrasi ini diikuti dengan gembira dan mengikuti hati nurani. 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakatra Subari mengatakan selama proses persiapan pemilihan umum selama ini berjalan dengan baik. Dia melihat dinamika selama masa kampanye sangat tinggi. Namun bisa berjalan kondusif tanpa disertai kegiatan anarkistis. 

“Tujuh belas April besok (hari ini) adalah puncak dari pesta demokrasi lima tahunan sekaligus pemilihan presiden. Untuk itu kami mengimbau agar masyarakat menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada yang golput,” katanya, Selasa (16/4).

MUI juga meminta masyarakat untuk memandang pemilu sebagai satu keadaan atau satu perjalanan bangsa yang sudah berulang sebagai wujud demokrasi. Dengan pandangan itu diharapkan tidak menimbulkan berbagai efek yang tidak baik seusai pemilihan. 

“Namanya pemilihan, dalam tanda kutip, ada yang disebut menang, ada yang disebut kalah. Bersikaplah wajar. Yang kalah jangan kemudian bersikap berlebihan sehingga merugikan bangsa ini,” terangnya.

Pria yang juga menjabat ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo ini menjelaskan, di dalam Islam bentuk syukur tidak harus diwujudkan dalam sikap melebihi batas kewajaran. Dalam hal ini apalagi sampai menimbulkan berbagai simbol dalam tanda kutip ejekan,” imbuhnya. 

Terkait beredarnya isu-isu yang semakin tak jelas kebenarannya mengiringi pencoblosan, tokoh Tionghoa Solo Sumartono Hadinoto mengajak segenap masyarakat agar jeli dalam menyaring segala informasi yang diterima. Masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya juga diimbau tidak terpengaruh siapapun.

“Kota Solo, kota yang sangat bhinneka dengan kultur budaya yang saling menghargai satu sama lain. Makanya Solo ini bukan bagian dari daerah rawan konflik di Indonesia,” jelas tokoh yang mendapat penghargaan perdamaian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini.

Atas dasar itu, dirinya sangat menyayangkan jika elemen masyarakat jadi terpecah belah karena pandangan dan dukungan politik yang berbeda. Apalagi sampai hari pencoblosan banyak beredar informasi tidak benar dari segala penjuru yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. 

“Tidak soal mau dukung A atau B. Yang jelas semuanya itu untuk mencari pemimpin yang paling baik,” kata ini.

Meski kemajuan informasi juga memberikan dampak negatif, ia sedikit bersyukur karena di era keterbukaan ini sejumlah keturunan Tionghoa mulai berani muncul di masyarakat. Padahal, beberapa pemilu sebelumnya, mereka bisa dibilang mereka kelompok masyarakat yang paling apatis soal politik.

“Mungkin ada trauma masa lalu yang membuat keturunan Tionghoa berpikir seperti itu. Saat ini, mereka mulai berani tampil di muka umum. Bahkan beberapa di antaranya sudah ada yang muncul di pentas perpolitikan di Indonesia. Saya pikir ini kemajuan yang baik," jelas dia.

Jika semangat kebhinnekaan terjaga dengan baik, di mana hak-hak sebagai warga negara setara, dia yakin ke depan warga keturunan Tionghoa akan berani menunjukkan kemampuannya dalam berbagai sektor, bukan hanya dalam bidang bisnis dan ekonomi saja. 

“Untuk saat ini, kami para orang tua selalu menekankan agar mereka berpartisipasi aktif dalam pemilu. Kita tidak bisa memasrahkan negara kita dengan titip suara alias golput pada orang lain. Nyoblos itu penting untuk membantu menentukan nasib negara kita,” tegas Sumartono.

Masyarakat juga diminta agar tidak terlalu khawatir dengan penyelenggaraan pemilu. Mereka diminta tidak mudah terprovokasi karena pemilu bukan ajang kompetisi menang atau kalah. Intinya, para pemimpin harus bisa legawa  ketika belum mendapatkan mandat dari masyarakat.

“Saya yakin kalau tokoh politik bisa menerima hasil pemilu ini, massa pendukungnya pun bisa ikut menerima dengan legawa. Jadi siapapun yang terpilih (pileg dan pilpres) bukan masalah karena merekalah yang terbaik,” tutur Sumartono. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia