Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Upaya Dinas Arpus Klaten Selamatkan Surat Penting dari Erupsi Merapi

19 April 2019, 09: 15: 59 WIB | editor : Perdana

SOLUSI: Nina Sukmanawati tunjukkan sertifikat tanah milik awan panas erupsi Merapi 2010. Mereka juga melayani pemindaian dokumen penting warga Balerante, Kemalang, Klaten.

SOLUSI: Nina Sukmanawati tunjukkan sertifikat tanah milik awan panas erupsi Merapi 2010. Mereka juga melayani pemindaian dokumen penting warga Balerante, Kemalang, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Kondisi Gunung Merapi yang masih berstatus waspada membuat warga terus meningkatkan kewaspadaan. Termasuk menyelamatkan barang berharga mereka ketika terjadi erupsi, seperti berbagai dokumen penting. Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Klaten pun hadir untuk menjawab keresahan warga lereng Merapi tersebut. Seperti apa upayanya?

ANGGA PURENDA, Klaten

Sebuah dokumen berupa sertifikat tanah yang sudah dialihmedikan menjadi bentuk digital tampak di layar monitor komputer di salah satu ruangan Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Klaten. Sertifikat itu milik warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang yang beberapa hari sebelumnya telah melewati proses pemindaian atau scanning.

Saat Jawa Pos Radar Solo melihat lebih dekat sertifikat tanah itu kondisinya terdapat bagian yang berlubang. Untung saja bagian yang berlubang itu tidak pada informasi penting dari kepemilikan tanah. Tetapi di beberapa bagiannya warna kertas dari sertifikat itu juga sudah kecoklatan dan kehitaman seperti bekas terbakar.

Salah satu Arsiparis Dinas Arpus Klaten, Nina Sukmanawati, 42, mengungkapkan jika sertifikat tanah itu menjadi saksi atas kedahsyatan erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada 2010. Hal itu disebabkan suhu panas dari luncuran awan panas yang mengarah ke Desa Balerante sendiri.

“Pemiliknya mengatakan jika sertifikat tanah itu sempat diletakan di bawah tikar tetapi masih bisa diselamatkan. Meskipun kondisinya sudah berlubang tetapi informasi yang ada di dalam sertifikat masih bisa terbaca. Sertifikat tanah ini menjadi salah satu dokumen yang kita lakukan pemindaian,” jelas Nina saat ditemui Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.

Saat Nina bersama rekan kerja lainnya memindai dokumen penting yang terkena awan panas itu menjadikan pengalaman menarik baginya. Dirinya tidak menyangka jika sertifikat itu masih bisa terselamatkan. Sertifikat tanah itu pun kini sudah memiliki duplikatnya dalam bentuk digital yang tersimpan di Dinas Arpus.

Pemindaian berbagai dokumen penting milik warga di daerah rawan bencana merupakan salah satu inovasi yang dilakukan Dinas Arpus Klaten. Hal ini untuk mengantisipasi rusak dan hilangnya dokumen tersebut saat terjadi erupsi. Melalui pemindaian itu membuat warga memiliki dokumen dalam bentuk digital yang disimpan dan dikelola oleh Dinas Arpus sendiri.

Pemindaian dokumen penting di daerah rawan bencana baru dilakukan di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. Antusias warga untuk memindaikan berbagai akta hingga sertifikat ke layanan Dinas Arpus di salah satu rumah warga cukup tinggi. Pada awalnya bisa menargetkan memindai dokumen dari 35 kepala keluraga (KK).

“Tetapi saat pelayanan itu ternyata dokumen yang harus kita pindai cukup banyak. Setiap KK saja minimal bisa 10 sertifikat yang harus dipindai. Maka itu layanan yang kita lakukan sejak pagi hingga sore hari itu hanya bisa dilakukan pada 12 KK saja,” jelasnya.

Seusai gelaran pilpres program pemindaian dokumen penting di Desa Balerante akan dilakukan kembali. Mengingat desa yang jaraknya hanya 4 Km dari puncak Gunung Merapi itu terdapat 600 KK. Maka itu akan menjadi prioritas utama untuk memberikan pelayanan pemindaian dokumen dengan kondisi Merapi yang aktivitasnya terus meningkat.

Dalam melakukan pemindaian tersebut disertai dengan pembuatan berita acara. Di dalamnya berisikan data terkait akta maupun sertifikat yang telah dilakukan pemindaian. Termasuk adanya pernyataan yang menegaskan jika dokumen yang dipindai itu sesuai dengan dokumen aslinya.

Nina mengatakan, ada beberapa tips bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana dalam menyimpan dokumen pentingnya. Di awali dari memfotokopi seluruh dokumen penting tetapi telah dilegalisir dengan setiap itemnya setidaknya tiga lembar. Lantas disimpan pada tiga lokasi yang berbeda untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.

“Saat penyimpanan pada dokumen aslinya dari setiap anggota keluarga setidaknya sudah diklasifikasikan. Termasuk dijadikan satu sehingga ketika terjadi erupsi bisa dengan mudah diselamatkan saat melakukan evakuasi,” jelasnya.

Dirinya berharap dengan inovasi yang digulirkan oleh Dinas Arpus itu bisa membantu warga dalam menyelamatkan dokumen penting. Warga yang sudah memiliki dokumen dalam bentuk digital pun tidak perlu khawatir apabila saat terjadi bencana tidak bisa menyelamatkan akta hingga sertifikatnya karena sudah terduplikasi.

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia