Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Festival Lampion Salib Semarakan Paskah

19 April 2019, 15: 05: 59 WIB | editor : Perdana

MANFAATKAN BARANG BEKAS: Festival lampion salib yang dipasang di halaman Gereja Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten untuk menyambut Hari Raya Paskah.

MANFAATKAN BARANG BEKAS: Festival lampion salib yang dipasang di halaman Gereja Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten untuk menyambut Hari Raya Paskah. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Berbagai cara dilakukan merayakan Paskah hari ini. Seperti dilakukan umat Katolik di Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi. Menggelar festival lampion berbentuk salib di halaman gereja setempat. Menariknya, lampion dibuat dari barang-barang bekas.

Terdapat 36 lampion salib dengan pancaran warna-warni yang dipasang. Sekretaris Panitia Perayaan Paskah Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi Christina Budi Hartini menyebut lampion ini untuk memberikan kesempatan kepada umat dalam menunjukan kreativitasnya. Puluhan lampion salib itu berasal dari masing-masing lingkungan. Dipajang di pintu masuk utama gereja selama pekan suci.

”Kami ingin mengajak umat untuk agar berkreasi dengan barang-barang yang ditemukan di lingkungan sekitarnya. Berbagai barang bekas mulai dari botol, kardus, hingga tripleks bisa digunakan untuk membuat lampion berbentuk salib. Hasil kreasi dari umat cukup bagus,” kata Budi kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (18/4).

Ke-36 lampion salib ini menggambarkan jumlah lingkungan yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi. Mereka diberikan waktu sepekan untuk membuat lampion. Lantas pihak gereja melakukan penataan, tepat di pintu masuk hingga ke halaman.

Pancaran warna-warni dari lampion salib itu memang menarik perhatian warga sekitar. Terutama pada malam hari. Para pengunjung yang datang tidak hanya umat gereja setempat. Melainkan dibuka untuk umum sebagai wahana selfie.

”Lampion salib yang dibuat setiap lingkungan ini bukan untuk dilombakan. Tetapi kami ingin menyemarakan Paskah. Ini baru pertama kali digelar di gereja kami. Sebagai pembeda dari perayaan sebelumnya,” beber Budi.

Eufrasia Gracelynn, 15, mengaku tertarik berfoto di festival lampion salib tersebut. Dia datang bersama teman-temannya. Dia berharap hiasan lampion salib bisa mengajak para umat untuk lebih rajin datang ke gereja. ”Sebagai anak muda saya tertarik datang ke sini. Beberapa fotonya sudah saya unggah di media sosial,” ujar warga Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno ini. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia