Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Cabor Wheelchair Basketball Absen di Peparnas 2020

19 April 2019, 17: 30: 59 WIB | editor : Perdana

PENGEMBANGAN: Atlet timnas wheelchair basketball tengah mengajari siswa YPAC di Solo.

PENGEMBANGAN: Atlet timnas wheelchair basketball tengah mengajari siswa YPAC di Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) siap digelar di Papua 2020 mendatang. Beberapa pengurus National Paralympic Committee (NPC) tingkat provinsi sudah mulai bergerak. Mereka mensosialisasikan program kejuaraan multievent tersebut, dan berharap seluruh atlet bisa ikut serta di berbagai cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan.

Sayangnya tak semua cabor sepertinya akan digelar. Seperti cabor wheelchair basketball atau bola basket duduk.

”Untuk membentuk timnas saja butuh perjuangan keras buat kita, karena tak banyak atlet yang background-nya suka atau lihai main basket. Kebanyakan berasal dari cabor lain, macam atletik dan voli duduk yang kita ajari basket dari nol. Pas di Asian Para Games (2018 di Jakarta) saja bisa dibilang itu dadakan, dan nekad,” terang Pelatih Timnas Wheelchair Basketball Indonesia Fajar Brilianto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dirinya menilai pengembangan cabor ini di tingkat lokal memang cukup sulit bisa dilakukan. Banyak provinsi yang sepertinya akan sulit untuk mengembangkan cabor ini. Salah satunya karena ketersediaan atlet yang terbilang minim.

 ”Karena hal inilah, sepertinya Peparnas nanti, cabor ini (wheelchair basketball) sepertinya tak akan  digelar,” terang 

Kendala utama juga lantaran mahalnya alokasi dana untuk kursi roda khusus untuk basket. ”Untuk beli skuad Timnas saja awalnya kita harus menggunakan kursi roda pribadi milik Donald (Santoso), kapten kita dulu. Kenapa telat dulu kami menerima kursi roda dari negara, itu karena memang harganya yang terlampau mahal. Dan kalau seluruh daerah harus punya untuk mengembangkan cabor ini, tentu cukup memberatkan juga,” tuturnya.

Di ajang Asean Para Games 2020 di Filipina, ternyata Indonesia tak mengirimkan cabor ini dengan alasan pendanaan. Situasi ini membuat seluruh atlet timnas wheelchair basketball Indonesia, memutuskan untuk terjun mengikuti cabor lainnya. Salah satunya akan ikut seleksi di cabor atletik.

”Untungnya atlet disabilitas itu beberapa punya potensi untuk ikut di beberapa cabor, jadi mereka bisa mengasah kemampuannya di cabor lain, andai kata di cabor yang tengah diikutinya tidak digelar kelasnya dalam sebuah kejuaraan internasional,” ujarnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia