Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Murid Kelas 1 SD Sulit Pahami HOTS

20 April 2019, 17: 22: 56 WIB | editor : Perdana

BAGI WAWASAN: Workshop kupas pembelajaran HOTS di tingkat SD. 

BAGI WAWASAN: Workshop kupas pembelajaran HOTS di tingkat SD.  (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Keterampilan analisis dapat dicapai apabila sekolah melaksanakan pembelajaran higher order thinking skills (HOTS). Melalui pembelajaran HOTS, peserta didik akan terbiasa menghadapi permasalahan yang kompleks dan mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Itu disampaikan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Sajidan dalam workshop yang diselenggarakan di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kota Barat.

“Pembelajaran HOTS dapat dilaksanakan dengan maksimal apabila semua komponen dapat terlibat. Mulai dari guru, orang tua, dan peserta didik. Guru harus mulai mengubah metode atau model pembelajaran yang mengarah ke pembalajaran HOTS,” ungkapnya.

Sajidan memaparkan, salah satu ciri khas revolusi industri 4.0 adalah banyaknya penggunaan sistem siber untuk membantu dan menggantikan peran manusia dalam dunia kerja.

Dia menyampaikan, salah satu keterampilan yang harus dimiliki untuk mempersiapkan generasi ke depan adalah keterampilan berpikir analisis.

“Keterampilan siswa harus terus dikembangkan berdasarkan talenta peserta didik. Orang-orang yang kreatif dan original sangat berpeluang menjadi sukses di era revolusi industri 4.0 saat ini,” tegasnya.

Sajidan menekankan pentingnya literasi dalam menunjang pembelajaran HOTS. Keterampilan literasi harus ditanamkan pada anak–anak sejak usia awal sekolah sehingga generasi ke depan siap menjadi aktor dalam era revolusi industri 4.0.

Salah seorang peserta workshop, Wahyu Widodo menyampaikan, tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pembelajaran HOTS di kelas 1. Siswa merasa kesulitan menghadapi soal HOTS pada saat ulangan semester.

Dia sering menjumpai kesenjangan antara anak yang satu dengan yang lain dalam memahami soal–soal tersebut, sehingga diperlukan pengulangan dalam membaca soal.

“Mengajarkan peserta didik kelas bawah untuk berpikir analitis memang bukan perkara mudah. Perlu tahapan-tahapan tertentu. Tetapi harus dilakukan karena tuntutan perkembangan zaman yang semakin kompleks,” pungkasnya. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia