Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Beras Barepan Berani Bersaing

20 April 2019, 17: 57: 12 WIB | editor : Perdana

RODA PEREKONOMIAN: Proses penggilingan beras milik BUMDes Barepan, Kecamatan Cawas.

RODA PEREKONOMIAN: Proses penggilingan beras milik BUMDes Barepan, Kecamatan Cawas. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Belum seluruh desa membentuk unit usaha yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Klaten, baru 165 desa saja yang punya BUMDes. Fakta ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten mendorong berdirinya bidang usaha yang dikelola BUMDes.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Klaten Jaka Purwanto menyebut BUMDes bisa memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Desa didorong mampu menggali dan mengoptimalkan potensi masing-masing. Masalahnya, desa sering terkendala dalam menggali potensinya.

”Secara umum potensi utama desa di Klaten tidak jauh-jauh dari pertanian dan wisata. Itu dioptimalkan menjadi salah satu unit usaha,” kata Jaka kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (19/4).

Di bidang pertanian, Kota Bersinar memiliki brand beras ternama, yakni rojolele. Namun  potensi tersebut belum dilirik secara optimal oleh BUMDes. Jaka merekomendasikan pihak desa yang memiliki keunggulan di bidang pertanian, bisa menjalankan usaha produksi beras rojolele.

”Sekarang ini memang cukup banyak beredar beras rojolele di pasaran. Tapi kan belum tentu isinya juga beras rojolele. Bisa jadi hanya mengambil brand-nya saja. Ini peluang besar untuk dikelola sebagai unit usaha,” papar Jaka.

Di sektor wisata, Klaten didominasi sumber mata air masing. Terutama desa yang berada di sisi utara. Dispermasdes meminta tiap desa yang memiliki sumber air, segera mengelolanya. Dijadikan objek wisata menarik untuk dikunjungi.

Jaka menekankan, potensi pengelolaan sumber daya alam (SDA) tidak hanya sumber mata air semata. Tetapi juga perbukitan di sisi selatan Klaten. Seperti Kecamatan Bayat dan sekitarnya. BUMDes yang berhasil mengelola yakni Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat.

”Kami berharap BUMDes yang sudah berdiri bisa terus berkembang. Sedangkan yang belum, segera membentuk. Terutama kepala desa yang baru terpilih untuk menginisiasi badan usaha. Jika diperlukan, antardesa bisa saling berkolaborasi,” papar Jaka.

Sementara itu, Desa Barepan, Kecamatan Cawas melirik pengelolaan beras jenis IR 64. Kepala Desa Barepan Irmawan Andriyanto mengaku beras dikemas dalam kantong plastik ukuran 5 kg. Diberi brand Beras Barepan. ”Setiap hari mampu memproduksi 2 ton. Dipasarkan ke berbagai daerah. Meski pendatang baru, tetapi kualitas beras kami tidak kalah dengan Delanggu,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia