Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Features
Kartini Masa Kini

Endang Listiani, Tak Menyerah Meski Sering Diintimidasi

22 April 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Endang Listiani, Tak Menyerah Meski Sering Diintimidasi

SOLO - Tidak mudah menyuarakan suara kaum perempuan. Apalagi terkait hak-hak mereka dalam hukum dan kemanusiaan. Namun itu tak membuat Endang Listiani, 39, mundur. Justru tantangan dan rintangan ini semakin memotivasi dia untuk memperjuangkan nasib kaumnya.

“Kami beri pendampingan hukum pada wanita korban kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Kalau sudah begini, diintimidasi pun kami tak mundur,” jelas perempuan yang akrab disapa Elist itu.

Ditemui di rumahnya Perum Bumi Wonorejo Indah, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, perempuan satu ini sedang memanfaatkan akhir pekannya untuk bercengkrama bersama putri semata wayangnya, Az Zahra Syailendra Bilge Rolistha. “Tiap pekan sering sekali keluar kota. Waktu buat anak jadi banyak tersita. Makanya kalau longgar ya fokus sama anak,” kata dia.

Perempuan yang namanya mulai diperhitungkan lewat kiprahnya di Solidaritas Perempuan Untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) ini mulai aktif di kegiatan sosial sejak masa sekolah. 

“Saya masuk kuliah 1997. Tahun ini pikiran dan keyakinan saya dibentuk lewat kegiatan di kampus. Akhirnya saya diminta bergabung dengan SPEK-HAM,” ujar alumnus Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) ini. 

Pada tahun-tahun jelang reformasi tersebut, merupakan masa-masa yang cukup kritis bagi perpolitilan di Indonesia. Perjalanan hidupnya lalu mempertemukan dia dengan banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun seksual. Bahkan hingga konflik sosial pecah pada 1998, catatan  pribadinya mengungkap banyak pelanggaran pada perempuan Indonesia. 

Pascakrisis moneter dan demonstrasi besar 1998, dia mulai meneliti berbagai fenomena di masyarakat. Salah satunya komparasi soal kasus perkosaan perempuan keturunan Tionghoa di ibu kota yang dikomparasikan dengan kerusuhan sosial antaretnis kala itu. 

“Ada banyak kasus yang sangat miris dalam beberapa konflik 1998 itu. Kami coba komparasikan dengan kerusuhan serupa di Solo. Namun yang kami temukan tidak ada satu pun kasus kekerasan seksual pada perempuan keturunan Tionghoa di Solo, meski konflik sosial sempat membara selama beberapa waktu,” kenang Elist.

Dari sana, dia bersama tim mulai fokus pada pendampingan-pendampingan hukum pada perempuan korban kekerasan fisik maupun seksual. Salah satu kasus yang masih ia ingat dengan jelas adalah kala para buruh sebuah pabrik di Karanganyar berani bersuara di muka persidangan.

“Pada 2003 kalau tidak salah. Waktu itu ada laporan soal kekerasan seksual disertai intimidasi dari bos ke buruhnya. Awalnya kami kesulitan untuk mendampingi korban karena dia takut untuk bicara,” jelas dia. 

Bulan demi bulan tim mendampingi korban. Tak jarang berbagai intimidasi dari oknum tak bertanggung jawab ikut dirasakan selama masa pencarian keadilan. “Teror intimidsi sudah jadi makanan sehari-hari. Kami tahu risiko yang kami hadapi. Tapi tetap saja kami dampingi,” jelas dia.

Di tengah masa-masa sulit dan melelahkan tersebut akhirnya ada satu korban yang berani bersuara. Kelantangan korban itu akhirnya memicu korban lainnya untuk turut bersuara. Alhasil, puluhan korban berani menyuarakan pelecehan yang dialami di meja hijau. 

“Korban memiliki banyak kekhawatiran jika berani bicara soal itu. Takut dipecat. Belum lagi ada ancaman dari pelaku. Tapi akhirnya semua bisa diselesaikan lewat jalur hukum. Paling tidak pelaku sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akhirnya dibui,” kata Elist.

Salah satu kisah lain yang cukup membuat miris yang pernah ia dampingi adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh seorang istri. Kejadian dipicu karena kecemburuan suami. Akhirnya gelap mata dan berujung kekerasan terhadap istri. Meski sempat masuk sidang di pengadilan, korban hanya mengajukan gugat cerai dan tidak meneruskan kasus tersebut. 

Baginya, menjadi perempuan Indonesia itu adalah menjadi pribadi yang mandiri dan berani menyuarakan ketidakadilan. Baik yang dialami sendiri maupun yang dialami orang lain. Karena dengan begitu, jiwa dan semangat Kartini tetap terpelihara dengan baik dari kemandirian dan keberanian yang dipelihara daei dalam diri seorang perempuan. 

“Perempuan cantik itu mereka yang membangun kekuatannya dari berbagai ujian hidup. Tumbuh tangguh dari setiap kesulitan yang mereka nikmati. Dan mantap melangkah dari buah-buah karya yang dihasilkan,” tutur Elist. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia