Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Air Embung Tak Layak Konsumsi, Bikin Pamsimas

22 April 2019, 14: 34: 29 WIB | editor : Perdana

TAK LAYAK KONSUMSI: Tradisi warga di embung Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom yang selama ini dimanfaatkan untuk irigasi dan memandikan ternak.

TAK LAYAK KONSUMSI: Tradisi warga di embung Dusun Bunder, Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom yang selama ini dimanfaatkan untuk irigasi dan memandikan ternak. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Di Desa Bandungan, Kecamatan Jatinom sejatinya ada sebuah embung. Namun air embung di Dusun Bunder itu tak layak konsumsi. Hanya digunakan untuk irigasi dan memandikan ternak. Solusinya, akan digalakkan program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas).

Selama ini, warga Desa Bandungan masih memanfaatkan air tadah hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Termasuk kebutuhan hewan ternak, diambilkan dari air yang ditampung dalam bak di rumah masing-masing. Sekretaris Desa (Sekdes) Bandungan Budi Setyawan mengaku program pamsimas dalam tahap persiapan pemasangan pipa. Dari sumur bor ke masing-masing rumah tangga.

”Kalau air sudah habis ya beli. Per tangki kapasitas 5.000 liter seharga Rp 100 ribu. Tetapi biasanya 10-15 hari sudah habis. Terutama warga yang memiliki ternak banyak,” kata Budi Setyawan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (21/4).

Kebutuhan air minum ternak lebih banyak daripada konsumsi warga. Mengingat di Desa Bandungan setiap rumah nyaris memiliki ternak sapi. Jumlahnya mencapai ratusan ekor. ”Pamsimas sudah berjalan 75 persen. Sudah mulai dipasang pipa ke rumah warga. Nantinya akan dimanfaatkan 300 kepala keluarga (KK),” beber Budi.

Desa Bandungan termasuk kawasan sulit air. Warga yang ingin mengambil air bersih, harus berjalan sejauh 5 km. Karena itu, warga pilih membeli air bersih sesuai kebutuhan masing-masing. Program pasimas menelan anggaran Rp 300 juta. Harus mengebor hingga kedalaman 150 meter.

”Embung yang ada saat ini hanya untuk irigasi dan memandikan hewan ternak milik warga. Pengembangannya akan kami buat embung permanen yang baru. Ukuruannya 30 x 60 meter. Jaraknya sekitar 500 meter dari embung lama di Dusun Jarakan,” ujar Budi.

Desa Bandungan dihuni 3.200 jiwa dengan 800 KK. Tersebar di sembilan dusun. Setiap tahunnya menggelar syukuran atas melimpahnya air tadah hujan. Dipusatkan pada embung di desa setempat. ”Embung di Dusun Bunder dibangun sejak 1956. Ukurannya 30 x 30 meter dan kedalaman 2 meter. Dulu air di embung untuk dikonsumsi. Tetapi sekarang untuk memandikan hewan ternak sapi dan pengairan saja,” ucap Mukijo, 39, warga Dusun Jarakan, Desa Bandungan. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia