Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

PSPS Tunggak Hak Tiga Penggawa Persis Musim Lalu

22 April 2019, 19: 48: 41 WIB | editor : Perdana

BIMBANG: Tiga pemain Persis Solo saat masih bermain di PSPS. Abdul Abanda Rahman (pojok kiri), Tegar Hening Pangestu (jongkok tengah), dan Syaiful Ramadhan (dua dari kanan).

BIMBANG: Tiga pemain Persis Solo saat masih bermain di PSPS. Abdul Abanda Rahman (pojok kiri), Tegar Hening Pangestu (jongkok tengah), dan Syaiful Ramadhan (dua dari kanan). (INSTAGRAM OFFICIAL PSPS RIAU)

Share this      

SOLO – Ada ganjalan yang masih dirasakan oleh tiga pemain Persis Solo musim lalu, yang masih dirasakan oleh Abdul Abanda Rahman, Tegar Hening Pangestu, dan Syaiful Ramadhan. Ini lantaran klub lama mereka, yakni PSPS Riau hingga hari ini belum juga melunasi hak mereka. Ketiganya memang didatangkan Persis di putaran kedua Liga 2 2018, saat PSPS tengah terganjal krisis finansial.

”Benar sekali, belum dibayar hingga hari ini. Nominalnya tidak bisa saya sebutkan, tapi lumayan banyak soalnya tiga bulan (yang belum dilunasi),” terang Tegar Hening Pangestu kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dia mengakui sembilan pemain yang mundur dari tim PSPS di putaran kedua Liga 2 2018 musim lalu, memang mundur karena tak ada kejelasan pembayaran gaji. Bahkan hingga hari ini hak mereka belum juga ada kejelasan akan dilunasi atau tidak. 

Sembilan nama lainnya  yang dimaksud Tegar, selain dia, Abanda dan Syaiful antara lain ada Ponda Dwi Saputra, Andika Kurniawan, Ahmad Renggur, Andre Abubakar, Zamrony, dan Sulaiman Effendi. 

Pihak Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) akhirnya turun tangan. Mereka ikut mengawal kasus tunggakan gaji pemain Riau tersebut. Sejumlah pemain kini telah menggugat manajemen PSPS ke Pengadilan Negeri Pekanbaru (11/4). Ini merupakan upaya yang harus dilakukan para pemain untuk mendapatkan hak-hak mereka.

Abanda mewakili 12 pemain PSPS musim lalu yang melapor gaji mereka yang belum dilunasi manajemen PSPS. 

”Abanda mewakili kita semua untuk lapor ke pengadilan negeri bersama APPI. Semoga bisa ada titik terang,” sahut Tegar. 

Abanda sendiri mengakui langkah mereka tidak langsung mengajukan gugatan ke PN Pekanbaru. Pihaknya sudah bermediasi agar dapat diselesaikan secara kekeluargaan dulu.

Dia menuturkan, saat itu para pemain sudah berusaha melakukan mediasi. Baik bertemu langsung maupun melalui sambungan telepon, namun tak ada tanggapan dari manajemen PSPS. 

”Kami sudah melapor ke APPI dan APPI juga telah mensomasi PSPS hingga memberikan peringatan sampai tiga kali. Tidak ada jawaban dan tanggapan, mereka dingin saja,” tuturnya.

Para pemain pun merasa kecewa. Sebab segala cara sudah dilakukan, namun tidak ada respons dari manajemen PSPS. 

”Somasi pertama dari APPI masih ada tanggapan. Mereka mengakui keteledoran tidak membayar gaji pemain, namun kedua dan ketiga tidak ada tanggapan lagi,” katanya.

Abdul mengatakan manajemen PSPS selalu beralasan masih menunggu subsidi dari PT. LIB yang belum cair. Padahal sebagai tim profesional hal-hal semacam itu tidak bisa dijadikan pengharapan. Seharusnya manajemen mempunyai dana sendiri di luar subsidi itu.

”PT. Liga mempunyai alasan tersendiri makanya mereka menahan subsidi, karena ternyata PSPS masih menunggak pajak tahun kemarin sampai sekarang. Gaji saya hanya dibayar dua bulan, tiga belum. DP saya juga tidak dilunasi,” imbuhnya yang menjelaskan total keseluruhan gaji yang belum dibayar mencapai Rp 498 juta. 

Saat ini dari tiga pemain Persis musim lalu tersebut, hanya Tegar yang masih bertahan. Syaiful kini merapat ke PSMS Medan, sedangkan Abanda mencari peruntungan di Kalteng Putra. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia